banner 970x250
Daerah

Patahudding Ajak Pengusaha Perkuat Branding Kopi Latimojong

×

Patahudding Ajak Pengusaha Perkuat Branding Kopi Latimojong

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

LUWU – Bupati Luwu, Patahudding, mengajak para pelaku usaha dan pemangku kepentingan untuk menjadikan Kopi Latimojong sebagai komoditas unggulan yang mampu menembus pasar nasional hingga internasional.

Hal itu ia sampaikan dalam kegiatan penyampaian program kerja

banner 300x600

Masyarakat perlindungan indikasi geografis (MPIG) Kopi Latimojong tahun 2025/2026 di Hotel Beliau, Senin, (24/11/2025) bersama para pengusaha dan pengelola kopi di Kabupaten Luwu.

Dalam sambutannya, Patahudding memberikan apresiasi kepada pengurus Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kopi Arabika Latimojong atas komitmennya menjaga standar mutu dan perlindungan produk kopi daerah.

Patahudding juga menyampaikan bahwa pemerintah sudah menyalurkan bantuan bibit kopi untuk sekitar 300 hektare lahan di wilayah Latimojong, khususnya Desa Tibussan dan Lambanan.

Ia memastikan distribusi bantuan bibit akan terus dilanjutkan apabila masih ditemukan lahan yang belum terpenuhi.

“Kita akan cek kembali. Kalau masih ada lahan yang butuh bibit, pemerintah siap bantu,” tegasnya.

Patahudding menyoroti fakta bahwa Luwu memiliki komoditas berkualitas, namun belum dikenal luas di tingkat nasional.

“Ketika kita bicara kopi dan kakao, pusat belum banyak mengenal Luwu. Banyak hasil bumi kita justru lebih dikenal daerah lain,” ucapnya.

Ia mencontohkan bahkan masih banyak orang tidak mengetahui bahwa Bandara I Lagaligo yang berada di Bua merupakan bagian dari Kabupaten Luwu.

Dalam kesempatan itu, ia mendorong PT Masmindo untuk ikut memperkuat branding daerah.

“Masmindo juga harus ikut membawa nama Luwu. Kawan-kawan dari Masmindo harus siap bekerja sama dengan Pemda melalui Pokja yang telah dibentuk,” katanya.

Bupati menegaskan bahwa kualitas dan kontinuitas produksi adalah kunci untuk menembus pasar besar.

“Produksi yang banyak tidak berarti apa-apa kalau kualitasnya tidak bagus. Begitu juga sebaliknya,” pesannya kepada petani dan pelaku usaha.

Baca juga:  Pemkab Luwu Gandeng BNN Palopo dalam Pencegahan Peredaran Narkoba

Selain kopi, ia menyebut beberapa potensi unggulan lain di Latimojong seperti kakao, alpukat, aren, dan hasil bumi berbasis perkebunan.

Pengelolaan hilir sudut ia minta melibatkan koperasi lokal, termasuk Koperasi Merah Putih.

Patahudding mengaku dirinya merupakan pecinta kopi sejak tahun 2005 dan menegaskan, ironisnya sebagian besar masyarakat Luwu justru lebih sering menikmati kopi dari luar daerah.

“Kita ingin 2026 Luwu menjadi sentra kopi. Mayoritas masyarakat harus menikmati kopi Latimojong, bukan kopi dari luar,” ujarnya.

Dalam sesi materi, pemerhati kopi, Brigjen TNI Pur. Muslimin Akib, mengulas potensi tanah Latimojong dan pengalaman riset yang melibatkan profesor ahli tanah.

“Latimojong itu luar biasa. Kultur tanahnya unik dari utara sampai selatan. Bahkan profesor yang saya bawa mengatakan ini salah satu tanah terbaik yang pernah ia lihat,” ungkapnya.

Ia juga mengajak seluruh peserta untuk membangkitkan kembali budaya menanam dan merawat kopi, seraya mengingatkan sejarah panjang kopi sebagai komoditas strategis dunia.

“Yang sudah menanam, pelihara kopinya. Yang belum menanam, tanamlah kopi. Kalau tidak dikerjakan, jangan tanya hasil,” imbaunya.

Dalam paparannya, Muslimin Akib, mengatakan bahwa potensi kopi Luwu, khususnya Arabika Latimojong, sangat besar namun belum dimaksimalkan.

Ia menyinggung fakta bahwa Indonesia pernah menjadi rujukan negara lain dalam dunia kopi, namun kini tertinggal dari negara seperti Vietnam.

“Dulu Vietnam belajar tentang kopi di Indonesia. Sekarang kita belajar dari Vietnam,” ujarnya.

Menurutnya, tidak semua wilayah Latimojong cocok untuk ditanami kopi. Untuk itu, ia telah membawa ahli tanah secara langsung ke wilayah tersebut untuk melakukan identifikasi kecocokan lahan.

“Profesor ahli tanah yang saya bawa mengatakan bahwa kultur tanah Latimojong luar biasa. Dari ujung Indonesia ke ujung lain, dia baru lihat tanah seperti ini. Ini harus kita banggakan,” ungkapnya.

Baca juga:  Munafri Arifuddin Bawa Makassar Raih Dua Penghargaan CNN Indonesia Awards 2025

Muslimin Akib, juga menegaskan bahwa kopi bukan sekadar tanaman ekonomis, tetapi telah menjadi bagian dari sejarah dan peradaban. Ia menyebut bahwa jejak kolonial Belanda tentang kopi masih terlihat di beberapa desa di Latimojong.

Dalam kesempatan yang sama, mantan Bupati Luwu, dua periode, H. Andi Mudzakkar (Cakka), mengingatkan bahwa bertani adalah investasi yang harus dipertimbangkan, terutama bagi pejabat.

“Saya pensiun tetap jadi petani. Pejabat harus punya sumber penghasilan lain selain jabatan agar tidak tergoda korupsi,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Cakka, menyinggung pentingnya investasi sektor perkebunan, tidak hanya bagi pengusaha, tetapi juga bagi pejabat publik.

“Pejabat harus berinvestasi. Salah satunya dengan bertani. Kalau hanya mengharap jabatan, ujung-ujungnya bisa korupsi atau memeras bawahan. Ini pesan saya bagi para pejabat, kepala desa, termasuk teman TNI dan Polri,” katanya.

Pertemuan tersebut ditutup dengan komitmen bersama untuk memperkuat ekosistem perkopian Latimojong, mulai dari budidaya, standar mutu, branding, hingga akses pasar agar Kopi Latimojong benar-benar mampu bersaing di kancah internasional.

Example 300x600
Example 120x600
Example 300x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *