LUWU – Nuansa adat Tana Luwu terasa begitu kuat sejak langkah pertama para tamu undangan memasuki lokasi pelaksanaan Adat Balik Gandangna “La’te Situju Lisa’na Luwu” di wilayah Walenrang–Lamasi (Walmas).
Irama gandang, busana adat yang anggun, serta tata prosesi yang sakral seakan membawa semua yang hadir menyelami nilai-nilai luhur budaya Luwu yang diwariskan turun-temurun.
Acara adat ini dihadiri sejumlah tokoh penting di Luwu Raya dan tingkat nasional, di antaranya Datu Luwu Andi Maradang Mackulau Opu To Bau, Bupati Luwu H. Patahudding.
Hadir pula, Bupati Luwu Utara Andi Abdullah Rahim, Wali Kota Palopo Hj. Naili Trisal, Wakil Bupati Luwu Timur Hj. Puspawati Husler, Anggota DPR RI Andi Baso Unru dari Fraksi Gerindra, serta anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan Rusli Sunali dan Hj. Asni.
Turut hadir pula sejumlah perwira tinggi dan purnawirawan TNI–Polri, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta keluarga besar penyelenggara.
Kehadiran para undangan semakin memperkuat suasana adat dengan penggunaan pakaian adat khas daerah masing-masing.
Balutan busana tradisional tersebut bukan sekadar simbol estetika, melainkan cerminan identitas, martabat, dan penghormatan terhadap adat istiadat Tana Luwu.
Prosesi pembukaan Adat Balik Gandangna “La’te Situju Lisa’na Luwu” yang dirangkaikan dengan syukuran keluarga besar almarhum Syukur Bijak, keluarga Muh. Dhevy Bijak Pawindu, berlangsung khidmat pada Sabtu, 20 Desember 2025.
Kegiatan ini turut dihadiri unsur Pemerintah Kabupaten Luwu, Koramil, Kapolsek Walenrang, pemerintah kecamatan dan desa, serta masyarakat setempat.
Diberitakan sebelumnya, hari pertama, Rabu, 17 Desember, yang dikenal dengan Allo Pa’parandukan atau Allo Panglawaran dimulai sekitar pukul 14.00 WITA.
Prosesi diawali dengan penjemputan Pattorang, yakni petugas adat Sumengo, yang kemudian dilanjutkan dengan prosesi Ma’patama Gandang sebagai tanda resmi dimulainya ritual adat Balik Gandang.
Pada pukul 15.00 WITA, prosesi pembukaan adat Ma’balik Gandang dilaksanakan secara resmi.
Untuk puncak acara, Sabtu, (20/12/2025), acara diawali dengan pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, serta doa bersama sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT dan permohonan agar seluruh rangkaian adat berlangsung lancar dan penuh keberkahan.
Para pemangku adat kemudian menyampaikan penjelasan mengenai makna dan nilai filosofis Balik Gandang.
Tradisi ini tidak hanya menjadi bentuk penghormatan kepada leluhur, tetapi juga simbol penguatan ikatan kekeluargaan, kebersamaan, serta komitmen menjaga keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat di Tana Luwu.
“Mewakili keluarga besar, sekaligus selaku Tomakaka Bolong, Wakil Bupati Luwu menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan, baik tenaga, pikiran, moril, maupun materil,” ujar Wakil Bupati Luwu, Muhammad Dhevy Bijak Pawindu.
“Balik Gandang merupakan ruang adat yang penting untuk mempererat silaturahmi sekaligus sarana pelestarian budaya agar tetap hidup dan dipahami oleh generasi penerus,” terang Dhevy.
Rangkaian prosesi adat selanjutnya sambutan-sambutan oleh Datu Luwu, Bupati Luwu dan pembicara Muhammad Dhevy Bijak Pawindu, mewakili rumpun keluarga Almarhum Syukur Bijak.

















