LUWU – Komitmen masyarakat Luwu, khususnya di wilayah Walenrang–Lamasi (Walmas), dalam menjaga dan melestarikan adat serta budaya Tana Luwu kembali tergambar kuat melalui pelaksanaan prosesi adat Balik Gandangna La’te Situju Lisa’na Luwu.
Prosesi adat ini digelar oleh rumpun keluarga besar almarhum Syukur Bijak dan melibatkan pemangku adat serta masyarakat dari berbagai kecamatan di Walmas.
Dalam sambutannya, Dhevy Bijak menyampaikan bahwa Balik Gandangna bukan sekadar seremoni adat, melainkan simbol perubahan suasana batin dari duka cita menuju suka cita, sekaligus peneguhan nilai-nilai budaya yang diwariskan leluhur Luwu.
“Seperti yang telah disampaikan oleh orang tua saya, Tomakaka Kujang, yang mewakili pemangku adat, izinkan saya kembali menjelaskan makna dari Balik Gandang ini,” ujar Dhevy di hadapan para tamu dan pemangku adat.
Ia menjelaskan, Balik Gandang secara harfiah berarti membalikkan gendang.
Gendang yang sebelumnya ditabuh sebagai tanda duka atas kepergian La’te Situju Lisa’na Luwu, Almarhum Syukur Bijak, kemudian dibalik sebagai simbol berakhirnya masa duka dan dimulainya suasana suka cita bagi keluarga dan masyarakat.
“Inilah esensi paling mendasar dari kegiatan adat Balik Gandang. Dalam tradisi kita, rangkaian adat kematian, baik yang dikenal sebagai Masissi dalam adat Luwu maupun Rambu Solo dalam budaya Toraja, akan menjadi sempurna ketika ditutup dengan Balik Gandang,” jelasnya.
Menurut Dhevy, prosesi adat tersebut dilaksanakan bersama seluruh perangkat adat dan keluarga besar La’te Situju Lisa’na Luwu sebagaimana yang disaksikan bersama oleh masyarakat.
Hal ini menjadi bentuk tanggung jawab moral dan kultural keluarga dalam menjaga kesinambungan adat di Tana Luwu.
Lebih jauh, Dhevy menegaskan bahwa kegiatan ini juga menjadi contoh nyata bagi masyarakat adat, khususnya di wilayah Walenrang yang dahulu terdiri dari enam kecamatan.
Ia menyebut, pelaksanaan Balik Gandang ini adalah wujud nyata identitas budaya masyarakat Walmas.
“Kami ingin memperlihatkan bahwa inilah budaya kami, inilah adat kami. Insyaallah, kami berkomitmen bersama seluruh perangkat adat di wilayah Walenrang untuk terus menjaga dan melestarikan kegiatan adat seperti ini,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Dhevy juga mengajak seluruh hadirin untuk senantiasa bersyukur kepada Allah SWT atas limpahan rahmat dan nikmat, sehingga seluruh rangkaian adat Balik Gandangna La’te Situju Lisa’na Luwu dapat terlaksana dengan baik dan penuh khidmat.
Ia turut menyampaikan penghormatan kepada para tokoh yang hadir.
“Atas nama ibunda kami, saudara-saudari kami, dan seluruh perangkat adat Bolong, kami merasa bangga dan terharu atas kehadiran bapak dan ibu semua yang telah membersamai kami di tempat ini,” ucap Dhevy.
Ia meyakini, kehadiran rumpun keluarga dan para tamu bukan hanya untuk menghadiri prosesi Balik Gandang, tetapi juga sebagai bentuk doa dan penghormatan kepada almarhum Syukur Bijak.
“Kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya, terutama kepada Yang Mulia Datu Luwu yang berkenan hadir bersama kita pada kesempatan ini,” tambahnya.
Dhevy juga mengakui bahwa pelaksanaan adat Balik Gandangna ini tidak akan terwujud tanpa dukungan berbagai pihak yang telah memberikan sumbangsih pemikiran, tenaga, hingga materi.
Ia menceritakan bahwa seluruh unsur masyarakat telah bersepakat melalui rapat bersama yang dilaksanakan sekitar Oktober lalu untuk menyelenggarakan kegiatan adat tersebut.
“Alhamdulillah, seluruh kecamatan di wilayah Kabupaten Luwu, khususnya enam kecamatan di Walmas, ikut terlibat dan berpartisipasi aktif dalam proses persiapan dan pembangunan yang kita saksikan bersama hari ini,” pungkasnya.
Prosesi Balik Gandangna La’te Situju Lisa’na Luwu ini menjadi penanda kuat bahwa adat dan budaya Luwu masih hidup, dijaga, dan diwariskan secara kolektif oleh masyarakatnya, khususnya di Walmas, sebagai bagian tak terpisahkan dari jati diri Wija To Luwu.

















