banner 970x250
Internasional

Gara-gara Kamera Fansite, Netizen ASEAN dan Korea Selatan Saling Serang di X

×

Gara-gara Kamera Fansite, Netizen ASEAN dan Korea Selatan Saling Serang di X

Sebarkan artikel ini
Foto: Gramedia
Example 468x60

RAGAM – Jagat maya platform X (sebelumnya Twitter) tengah dilanda “perang dunia” digital yang melibatkan dua kubu besar: warganet Korea Selatan (K-Netz) melawan aliansi warganet Asia Tenggara yang menjuluki diri mereka sebagai SEAblings.

Ketegangan ini memuncak pada Kamis (12/2/2026), di mana tagar-tagar terkait perseteruan tersebut mendominasi topik tren di berbagai negara, termasuk Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina.

banner 300x600

Pemicu konflik horizontal ini rupanya bermula dari insiden di dunia hiburan yang kemudian melebar ke ranah sosial-ekonomi dan rasisme.

Bibit perseteruan ini muncul dalam perhelatan konser band Korea Selatan, Day6, yang digelar di Axiata Arena, Kuala Lumpur, Malaysia.

Insiden bermula pada Sabtu (31/1/2026), ketika sejumlah pengelola situs penggemar (fansite) asal Korea Selatan tertangkap basah melanggar aturan promotor.

Para fansite ini nekat membawa kamera profesional dengan lensa tele besar (lensa ‘bazooka’) ke dalam arena konser.

Tindakan ini tidak hanya melanggar hak cipta, tetapi juga mengganggu kenyamanan penonton lain karena mereka kerap mengangkat kamera tinggi-tinggi dan menghalangi pandangan.

Ketika ditegur dan diviralkan oleh penggemar lokal Malaysia karena dianggap tidak sopan, oknum K-Netz justru merespons dengan defensif.

Alih-alih meminta maaf, mereka mulai menyerang balik dengan narasi yang merendahkan negara tuan rumah dan kawasan Asia Tenggara secara umum.

Serangan K-Netz dengan cepat berubah menjadi ujaran kebencian bernada rasis. Mereka menargetkan berbagai aspek kehidupan masyarakat Asia Tenggara, mulai dari fisik, warna kulit, hingga status ekonomi.

Salah satu sasaran tembak adalah video klip grup vokal lokal Indonesia, No Na, yang mengambil latar persawahan.

“Kami tidak punya uang untuk menyewa set, jadi kami syuting di sawah. Apakah Anda sedang dalam perjalanan menanam bibit padi?” tulis salah satu akun K-Netz dengan nada mengejek, menyindir profesi agraris yang menjadi tulang punggung ekonomi banyak negara ASEAN.

Baca juga:  MCST Bantah Tudingan PUBG Terkait Aksi Bom di Jakarta

Tak berhenti di situ, tangkapan layar yang beredar juga menunjukkan betapa brutalnya komentar rasis tersebut.

Sebuah akun K-Netz bahkan membandingkan foto seorang wanita Asia Tenggara yang sedang memakan piza dengan gambar seekor kera yang sedang menganga, sebuah analogi yang sangat dehumanis.

Aktor Indonesia, Baskara Mahendra, suami dari Sherina Munaf, juga tak luput dijadikan bahan olok-olok visual yang merendahkan wajah orang Asia Tenggara.

Melihat harga diri kawasan diinjak-injak, netizen dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Filipina yang biasanya saling bersaing, kini merapatkan barisan.

Fenomena ini digambarkan secara jenaka melalui sebuah meme populer yang dibagikan akun @zelnutyareu: “ASEAN tuh definisi ga akur satu sama lain tapi kalau negara luar rasis ke ASEAN mereka tuh bersatu.”

Serangan balik yang dilancarkan SEAblings tidak main-main. Mereka menggunakan data statistik sosial Korea Selatan sebagai senjata pamungkas.

Akun X @iamjoelee memberikan balasan menohok yang merangkum berbagai krisis sosial di Negeri Ginseng tersebut.

“Tingkat kelahiran terendah di dunia, 10 besar tingkat bunuh diri tertinggi, kemiskinan lansia terburuk, selalu masuk 10 besar utang rumah tangga tertinggi di dunia… Kalian menjual inferioritas melalui budaya pop, ketergantungan pada kesempurnaan yang hanya bisa dicapai lewat standar kecantikan konyol dan operasi plastik,” tulis akun tersebut dalam bahasa Inggris, menyerang langsung ulu hati kebanggaan semu oknum rasis tersebut.

Akun lain, @kylixxx11, menambahkan bumbu pedas dengan membalas akun provokator Korea @umparum3.

Ia mengunggah meme sindiran keras bergambar ilustrasi gantung diri dengan bendera Korea Selatan, disertai takarir (caption): “Melihatmu mengisi harga dirimu dengan menjadi rasis… pergilah mati, kau bajingan bodoh dan menjijikkan.”

Uniknya, warganet Indonesia tetap menyisipkan humor khas “+62” di tengah perang saraf ini. Banyak warganet yang menyindir kemampuan bahasa Inggris K-Netz yang dianggap minim meski berasal dari negara maju.

Baca juga:  Israel Serang Kapal Global Sumud Flotilla di Laut Internasional

“Aigoo pliseu speakeu useu englisheu juseyo,” tulis akun @sidestoryofmey, menirukan aksen Korea yang dipaksakan saat berbicara bahasa Inggris.

Hingga saat ini, tagar dukungan untuk sesama warga ASEAN masih terus mengalir.

Fenomena ini menjadi bukti ironis bahwa rasisme luar justru menjadi perekat paling ampuh bagi negara-negara tetangga yang selama ini kerap bertengkar soal klaim budaya atau pertandingan sepak bola.

Example 300x600
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *