LUWU – Sinergi antara dunia industri dan generasi muda dinilai menjadi kunci utama dalam menghadapi momentum bonus demografi di Tanah Luwu.
Hal ini mengemuka dalam forum bertajuk Sinergi Strategis, Membangun Generasi Emas Matappa yang digelar PT Masmindo Dwi Area (MDA) di Cafe Hypatia, Palopo dan Makassar, Minggu (3/5/2026).
Kegiatan tersebut mempertemukan kalangan pemuda, mahasiswa, akademisi, serta pihak perusahaan dalam satu ruang dialog untuk membahas kesiapan sumber daya manusia (SDM) lokal di tengah pertumbuhan investasi dan industri.
CDE and External Relations Senior Manager MDA, Rahmad Sabang, menegaskan bahwa bonus demografi hanya akan menjadi peluang jika diiringi dengan kesiapan generasi muda yang kompeten dan adaptif terhadap perubahan.
“Daerah ini akan berkembang pesat seiring masuknya investasi. Karena itu, generasi mudanya harus siap, memiliki kapasitas, dan diberi ruang untuk terlibat aktif dalam proses pembangunan,” ujar Rahmad.
Ia menambahkan, keterlibatan pemuda tidak cukup hanya sebagai penonton, melainkan harus menjadi bagian dari pelaku utama pembangunan daerah.
Menurutnya, MDA telah mulai membangun komunikasi dengan berbagai organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan sebagai langkah awal menciptakan kolaborasi berkelanjutan.
Sebagai bentuk konkret, MDA menyiapkan kompetisi karya tulis ilmiah dan esai yang melibatkan pemuda dan mahasiswa. Kompetisi ini diharapkan menjadi wadah lahirnya gagasan inovatif yang relevan dengan kebutuhan daerah.
Adapun tema yang diangkat mencakup berbagai isu strategis, seperti entrepreneurship dan ekonomi kreatif, kearifan lokal Tanah Luwu, digitalisasi dan kecerdasan buatan (AI), bonus demografi, energi baru terbarukan, independensi jurnalisme, hingga konsep green mining.
“Banyak ide besar lahir dari anak muda. Tantangannya adalah bagaimana ide itu difasilitasi, dipertemukan dengan kebutuhan industri, dan diwujudkan dalam aksi nyata,” lanjut Rahmad.
Diskusi berlangsung dinamis dan interaktif. Para peserta aktif menyampaikan pandangan terkait akses pendidikan, peningkatan kapasitas SDM, serta pentingnya membuka ruang kolaborasi antara organisasi pemuda dan sektor industri.
Khusus di Makassar, forum ini diikuti sejumlah organisasi, di antaranya HMI BADKO Sulawesi Selatan, PP IPMIL Luwu, PB IPMIL Luwu, AMPERA Sulawesi Selatan, PP IKPM Walmas, serta PP MPR Sulawesi Selatan.
Ketua PP IPMIL Luwu, Yandi, mengapresiasi inisiatif tersebut dan menilai forum ini sebagai langkah awal yang penting dalam menjembatani kepentingan pemuda dan dunia industri.
“Kegiatan seperti ini membuka ruang dialog yang selama ini jarang terjadi. Harapannya, ke depan semakin banyak program nyata yang melibatkan pemuda secara aktif,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa bonus demografi harus dimanfaatkan secara maksimal, bukan justru menjadi beban jika tidak dikelola dengan baik.
Kegiatan ditutup dengan penyerahan cenderamata kepada peserta sebagai bentuk apresiasi atas keterlibatan mereka dalam forum tersebut.
















