banner 970x250
Nasional

Deretan Keutamaan Haji dalam Islam: Kembali Suci Seperti Bayi Baru Lahir

9
×

Deretan Keutamaan Haji dalam Islam: Kembali Suci Seperti Bayi Baru Lahir

Sebarkan artikel ini
Foto: Unsplash
Example 468x60

RELIGI – Ibadah haji menempati kedudukan yang sangat agung dalam rukun Islam.

Perjalanan menuju Baitullah sejatinya bukanlah sebatas perpindahan fisik dari satu benua ke Tanah Suci, melainkan sebuah pengembaraan spiritual yang menuntut totalitas kepasrahan, pengorbanan harta, serta kesabaran.

banner 300x600

Puncak dari segala harapan para jemaah yang bersimpuh di depan Ka’bah adalah merengkuh predikat haji mabrur, sebuah derajat kemuliaan yang menjanjikan lembaran baru dalam kehidupan seorang hamba.

Panggilan agung untuk menunaikan rukun Islam kelima ini merupakan undangan eksklusif dari Sang Pencipta yang telah digaungkan sejak era kenabian.

Pemahaman ini turut ditegaskan oleh Pimpinan Pesantren dan Panti Asuhan Mitra Arafah Surabaya, Haniah, saat memberikan kajian keislaman di salah satu siaran radio lokal pada Senin (18/05/2026).

Ia merenungkan fenomena unik di balik undangan menuju Tanah Suci yang tidak selalu berbanding lurus dengan kekayaan finansial.

“Jawaban manusia atas panggilan itu adalah Labbaik Allahumma Labbaik. Karena itu ada orang yang secara materi mampu tetapi belum juga berangkat haji, sementara ada yang secara ekonomi terbatas justru dipanggil Allah untuk berhaji,” tutur Haniah merujuk pada kehendak mutlak Sang Pencipta, seperti dikutip dari RRI.

Keistimewaan dari ibadah haji yang dikerjakan dengan paripurna sangatlah luar biasa. Berdasarkan berbagai literatur hadis sahih, salah satu ganjaran terbesarnya adalah penyucian jiwa.

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa barang siapa yang melaksanakan haji tanpa berkata kotor dan tidak berbuat fasik, maka ia akan kembali suci bagaikan bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya.

Lebih dari itu, mengiringi ibadah haji dengan umrah diyakini secara spiritual mampu menjadi penawar dari kefakiran layaknya nyala api yang meluruhkan karat pada besi dan emas.

Baca juga:  Prabowo: Rp13,25 Triliun Bisa Sentuh 5 Juta Warga Lewat Program Kerakyatan

Kendati demikian, derajat kemabruran tentu tidak bisa diraih secara otomatis hanya dengan menginjakkan kaki di Makkah.

Terdapat fondasi utama yang wajib dipenuhi oleh setiap individu, yakni meluruskan niat secara murni semata-mata karena Allah SWT.

Selama berada di Tanah Suci, para jemaah diwajibkan untuk memenjarakan hawa nafsu dan menahan diri dari berbagai godaan.

Mengacu pada Surat Al-Baqarah ayat 197, setiap jemaah yang sedang berihram pantang mengeluarkan perkataan kotor, melakukan perbuatan maksiat, serta dilarang keras memicu perdebatan yang berujung pertengkaran.

Mampu mengendalikan ego di tengah jutaan manusia yang berdesakan menjadi ujian inti kemabruran.

Pada akhirnya, parameter keberhasilan ritual haji tidak hanya diukur di Padang Arafah atau di Mina, tetapi dibuktikan setelah jemaah kembali ke tanah air. Indikator utama haji mabrur tercermin kuat dari transformasi spiritual pelakunya.

“Orang yang hajinya mabrur akan berusaha menjaga ibadahnya, memperbaiki akhlaknya, meningkatkan keimanan dan ketakwaan, serta membawa perubahan sosial yang positif di lingkungannya,” pungkas Haniah.

Sejatinya, haji yang hakiki adalah momentum perbaikan diri secara permanen menuju ketaatan total kepada Sang Pencipta.

Example 300x600
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *