banner 970x250
Nasional

Berinvestasi pada “Why” dalam Beragama: Pentingnya Menanamkan Akidah

15
×

Berinvestasi pada “Why” dalam Beragama: Pentingnya Menanamkan Akidah

Sebarkan artikel ini
Foto: Screenshot
Example 468x60

RELIGI – Sebuah pertanyaan mendasar sering kali menghinggapi benak para orang tua dan umat beragama pada umumnya: apakah salat menjamin seseorang menjadi saleh?

Banyak yang mengira bahwa ketika seseorang, terutama anak-anak mereka, sudah melaksanakan salat, maka otomatis kesalehan akan mengikuti.

banner 300x600

Mengoreksi pandangan ini, Felix Siauw secara lugas menyatakan, “Apakah salat itu membuat orang jadi saleh? Jawabannya tidak. Tapi yang terjadi justru adalah sebaliknya. Saleh itu yang membuat orang jadi salat.”

Sebelum membahas korelasi antara salat dan kesalehan, kita harus menjawab hal yang jauh lebih fundamental: apa yang sebenarnya membuat seseorang digolongkan sebagai muslim?.

Secara syariat, seseorang yang bermaksiat, bahkan melakukan kejahatan besar, tetap dianggap sebagai muslim selama ia masih meyakini Allah sebagai Tuhannya.

Perbuatan buruk atau hilangnya ibadah fisik tidak secara otomatis mencabut status keislamannya.

Hal ini membuktikan bahwa menjadi seorang muslim tidak berawal dari perbuatan fisik semata. Ritual ibadah sejatinya hanyalah ekses atau akibat dari keislamannya.

Mengenai hal ini, Felix mengutip sabda Nabi, “Rasulullah menyampaikan seorang muslim itu adalah orang yang menyelamatkan muslim yang lain daripada lisannya dan daripada tangannya.”

Kemampuan tidak menyakiti orang lain, tidak berbohong, hingga mendirikan salat adalah sebuah indikator, bukan penyebab utama keislaman itu sendiri.

Lalu, apa yang membuat seseorang menjadi muslim? Jawabannya ada pada akidah.

“Yang membuat kita muslim adalah pikiran kita… sesuatu yang bersifat non-fisik, sesuatu yang bersifat yang enggak kelihatan,” tegas Felix.

Ketika Rasulullah berdakwah di tengah masyarakat Jahiliah yang penuh kezaliman, yang pertama kali diubah bukanlah amalan fisik, melainkan cara pandang dan keyakinan mereka.

Rukun iman adalah akar pembentuk pola pikir tersebut, sedangkan rukun Islam adalah penampakan fisiknya.

Baca juga:  Tolak Lihat Daftar Perusahaan Nakal, Prabowo: Saya Takut Ada Teman atau Kader Gerindra

Pemahaman tentang sebab-akibat ini menjadi jawaban atas berbagai ironi di masa kini. Misalnya, fenomena orang yang berlabel muslim namun bungkam melihat genosida di Palestina, atau fenomena pemuka agama yang melakukan perbuatan keji.

Terhadap kasus-kasus tersebut, Felix menyimpulkan, “Berarti ya muslim selama ini cuma jadi cangkangnya dia. Yaitu adalah dia sebenarnya memang mungkin tidak meyakini… Kalau dia meyakini Allah dan hari akhir, maka dia tidak akan pernah melakukan perbuatan-perbuatan seperti itu.”

Kesimpulannya, investasi terbesar dalam beragama seharusnya tidak hanya diletakkan pada ritual fisikal, melainkan pada fondasi pemikiran.

“Fisikal itu akan berujung pada dua pertanyaan: what and how (apa dan bagaimana). Sedangkan akidah itu adalah tentang pertanyaan why (kenapa),” jelasnya.

Tanpa landasan rasa cinta dan iman (menjawab “kenapa” kita menghamba), segala bentuk pengorbanan dan ibadah fisik tidak akan bisa bertahan lama dan akan kehilangan roh aslinya.

Example 300x600
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *