banner 970x250
Pendidikan

Munafri Dorong Guru Kuasai AI, Sebut Teknologi Tak Bisa Gantikan Peran Pendidik

21
×

Munafri Dorong Guru Kuasai AI, Sebut Teknologi Tak Bisa Gantikan Peran Pendidik

Sebarkan artikel ini
Munafri Dorong Guru Kuasai AI, Sebut Teknologi Tak Bisa Gantikan Peran Pendidik
Example 468x60

MAKASSAR – Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, mendorong para guru meningkatkan kemampuan dalam bidang koding dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Penguasaan teknologi dinilai penting agar tenaga pendidik mampu menyesuaikan metode pembelajaran dengan perkembangan zaman dan karakter generasi saat ini.

banner 300x600

Pesan tersebut disampaikan Munafri yang akrab disapa Appi saat menghadiri Gerakan Nasional 1 Juta Guru Mahir Koding dan Kecerdasan Artifisial melalui program PGRI Power Tahun 2026, yang diselenggarakan PGRI Kota Makassar di Aula Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Sulawesi Selatan, Jalan Adiyaksa, Makassar, Selasa (20/10/2026).

Menurut Appi, perkembangan teknologi telah mengubah berbagai aspek kehidupan, termasuk cara masyarakat berkomunikasi, memperoleh informasi, hingga menjalani proses pendidikan.

Karena itu, guru dituntut tidak hanya menguasai metode pembelajaran konvensional, tetapi juga memiliki kemampuan beradaptasi dengan kemajuan teknologi yang semakin dekat dengan kehidupan peserta didik.

“Kalau kita berpikir dalam dan detail tentang pendidikan, artinya kita berpikir tentang masa depan. Masa depan yang baik, masa depan yang berhasil harus dimulai dengan kuatnya fondasi masa sekarang,” ujar Appi dalam sambutannya pada kegiatan tersebut.

Ia menilai kualitas pendidikan menjadi salah satu fondasi utama dalam mempersiapkan generasi masa depan.

Fondasi itu harus dibangun melalui peningkatan kompetensi dan profesionalitas tenaga pendidik.

Appi menjelaskan, kehadiran AI dan berbagai teknologi digital membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan.

Algoritma dan kecerdasan buatan kini menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari, termasuk dalam proses belajar siswa.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran guru.

Menurutnya, pendidikan bukan sekadar proses penyampaian materi atau transfer pengetahuan.

Hubungan antara guru dan peserta didik juga melibatkan empati, perhatian, serta pembentukan nilai dan karakter.

Baca juga:  Gandeng Kreator Digital, Appi: Corong Pemerintah Tak Hanya Puji, Tapi Juga Kritik

Karena itu, teknologi seharusnya dimanfaatkan sebagai sarana pendukung untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, bukan menggantikan hubungan manusiawi dalam proses pendidikan.

“Kita mau, bagaimana guru-guru mampu menaklukkan teknologi dan menjadikan teknologi sebagai sarana yang tepat untuk menghasilkan proses belajar-mengajar yang baik bagi anak-anak kita,” jelasnya.

Appi berharap penguasaan teknologi memungkinkan para guru menghadirkan pembelajaran yang lebih efektif, menarik, dan relevan dengan kebutuhan siswa.

Selain kemampuan teknologi, Appi menyoroti perubahan karakteristik peserta didik dari generasi ke generasi.

Menurutnya, pola komunikasi antara guru dan siswa saat ini tidak lagi sama dengan masa lalu.

Peserta didik cenderung lebih terbuka dalam bertanya, berkomunikasi, hingga menyampaikan pendapat secara langsung.

Perubahan tersebut tidak seharusnya dipandang sebagai kemunduran sikap atau perilaku siswa, melainkan sebagai bagian dari perkembangan zaman yang perlu dipahami tenaga pendidik.

Ia mengingatkan agar guru tidak terjebak pada pandangan bahwa pendekatan pendidikan masa lalu harus selalu diterapkan dengan cara yang sama kepada generasi sekarang.

Sebaliknya, metode pembelajaran perlu disesuaikan dengan kebutuhan serta karakter peserta didik, tanpa mengabaikan pendidikan karakter, etika, dan nilai-nilai dasar.

“Yang harus menjadi tugas kita adalah menjadi guru yang adaptif. Kuncinya ini, adaptif, mampu mengikuti perkembangan,” ungkapnya.

Kemampuan beradaptasi, lanjut Appi, merupakan salah satu ukuran profesionalitas guru dalam menghadapi perubahan lingkungan pendidikan.

Guru yang memahami perkembangan teknologi dan karakter peserta didik dinilai akan lebih mudah membangun komunikasi serta menciptakan suasana belajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa.

Dalam kesempatan tersebut, Munafri mengapresiasi langkah Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang mendorong peningkatan kompetensi guru melalui Gerakan Nasional 1 Juta Guru Mahir Koding dan Kecerdasan Artifisial.

Program PGRI Power diarahkan untuk memperluas kemampuan guru dalam memanfaatkan teknologi digital, termasuk koding dan kecerdasan buatan, sebagai bagian dari pengembangan metode pembelajaran.

Baca juga:  Mendag Budi Santoso dan Wali Kota Makassar Pantau Harga Pangan Jelang Idulfitri

Menurut Appi, penguatan kompetensi tersebut penting agar guru tidak tertinggal dari perkembangan teknologi yang semakin akrab dengan kehidupan anak-anak.

Dengan memahami teknologi yang digunakan peserta didik, guru diharapkan mampu membangun komunikasi dan pendekatan pembelajaran yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman.

Ia juga berharap para peserta kegiatan dapat memanfaatkan pelatihan untuk menambah wawasan, mengembangkan keterampilan, dan menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam kegiatan belajar-mengajar di sekolah masing-masing.

Bagi Appi, mempersiapkan generasi unggul tidak cukup hanya dengan mengembangkan fasilitas pendidikan.

Peningkatan kualitas tenaga pendidik juga harus menjadi perhatian utama.

“Artinya, kita sudah berpikir jauh ke depan, berpikir tentang masa depan, berpikir tentang persiapan landasan untuk membangun sebuah generasi masa depan. Dimulai dari kemampuan guru itu sendiri,” pungkasnya.

Example 300x600
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *