PALOPO – Sebuah aksi unjuk rasa bertajuk “Aksi Bela Palestina” digelar oleh massa yang tergabung dalam Aliansi Pemuda dan Mahasiswa Islam Luwu Raya (APMIL Raya) di Kota Palopo.
Aksi penyampaian aspirasi tersebut dilangsungkan di Simpang Empat Lapangan Gaspa pada Ahad (01/03/2026), yang dimulai sejak pukul 16.00 WITA dan berlangsung dengan damai hingga waktu berbuka puasa.
Dalam aksi yang turut mendapat pengawalan dari aparat kepolisian setempat, massa tampak mengibarkan sejumlah bendera bertuliskan kalimat tauhid dan membentangkan spanduk panjang.
Spanduk berwarna hitam tersebut dengan tegas menyuarakan tuntutan utama mereka yang bertuliskan “Tolak Imperialisme AS! Haram Mengirim Tentara di Bawah Komando Amerika”.
Aksi ini merupakan bentuk penolakan keras terhadap wacana bergabungnya militer Indonesia ke dalam institusi Board of Peace di bawah komando Amerika Serikat.
Jenderal Lapangan aksi tersebut, Gani, dalam orasinya menegaskan bahwa menempatkan tentara Indonesia di bawah pimpinan Amerika Serikat adalah sebuah tindakan yang sangat salah kaprah.
Ia menyoroti ketidakadilan struktural di mana saudara-saudara muslim di Palestina sama sekali tidak dilibatkan dalam Board of Peace, sementara pihak Israel justru ikut serta di dalamnya.
“Israel ini adalah negara yang sampai saat ini sudah 77 tahun membombardir Palestina. Saat ini kita lihat yang terjadi di Palestina adalah penderitaan yang tiada henti. Oleh karena itu, mendukung program Board of Peace adalah sebuah kesalahan besar,” tegas Gani.
Ia juga kembali menggaungkan sikap organisasinya yang mengharamkan pengiriman tentara di bawah komando AS.
Sejalan dengan orasi tersebut, berdasarkan rilis pers resmi yang ditandatangani oleh Koordinator Lapangan, Hariono, pihak APMIL Raya menilai bahwa bergabungnya Indonesia ke dalam Board of Peace bukanlah langkah perdamaian yang sejati, melainkan hanya sebuah ilusi yang berbahaya.
Kebijakan tersebut dinilai berpotensi menjadikan tentara dari negeri muslim sebagai alat untuk sekadar menjaga kepentingan geopolitik dan ekonomi global asing yang selama ini tidak berpihak pada umat Islam.
Dalam rilisnya, APMIL Raya menyatakan tiga poin sikap utama.
Pertama, mereka menolak keras kebijakan pemerintah yang berencana mengirim militer Indonesia atas nama Board of Peace di bawah komando Amerika Serikat.
Kedua, mengingatkan para penguasa dan pimpinan militer bahwa menyerahkan komando tentara muslim kepada negara yang dianggap penjajah adalah tindakan haram sekaligus bentuk pengkhianatan terhadap amanah umat.
Ketiga, mereka mendesak agar militer Indonesia bersikap independen dan memprioritaskan perlindungan kedaulatan serta kepentingan umat Islam global.
APMIL Raya berharap militer Indonesia justru bisa mengambil peran sebagai pasukan yang membantu membebaskan tanah Palestina dari belenggu penjajahan.
Aksi di sore hari itu ditutup dengan seruan agar umat Islam bangkit menolak segala bentuk dominasi luar negeri dan mewujudkan kemerdekaan sejati.
















