banner 970x250
Daerah

Cegah Aksi Geng Motor, Wali Kota Makassar Dukung Program Performance Art Trauma Kota

×

Cegah Aksi Geng Motor, Wali Kota Makassar Dukung Program Performance Art Trauma Kota

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

MAKASSAR – Pemerintah Kota Makassar terus melakukan berbagai upaya strategis untuk menekan dan mencegah aksi liar serta tindakan kriminal di wilayahnya.

Komitmen tersebut kembali ditegaskan saat Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menerima audiensi dari komunitas Trauma Kota terkait rencana kegiatan performance art yang mengangkat isu kejahatan jalanan di Kantor Balai Kota Makassar, Senin (02/03/2026).

banner 300x600

Audiensi tersebut membahas inisiatif seni kolaboratif yang bertujuan merespons fenomena kejahatan jalanan.

Perhatian khusus diberikan pada aksi negatif geng motor yang kerap melibatkan generasi muda dan berdampak pada menurunnya rasa aman masyarakat saat menggunakan ruang publik.

Penggagas kegiatan, Soekarno-Hatta, menjelaskan bahwa sejak 2012 hingga saat ini, Kota Makassar masih sering menghadapi persoalan kejahatan jalanan yang dilakukan oleh oknum geng motor.

Menurutnya, fenomena tersebut menjadi persoalan sosial yang berpotensi menimbulkan trauma kolektif bagi warga sekaligus merusak citra kota.

“Kejahatan jalanan yang melibatkan geng motor ini sangat berdampak pada menurunnya rasa aman warga dalam memanfaatkan ruang publik. Ini bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga persoalan sosial dan psikologis yang bisa menimbulkan trauma,” ujarnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa pihaknya tidak menggeneralisasi seluruh komunitas motor sebagai pelaku kejahatan.

Ia menyebutkan bahwa terdapat pula kelompok-kelompok yang melakukan kegiatan positif dan membangun solidaritas di antara anggotanya.

“Kami melihat tidak semuanya bisa digeneralisasi. Ada juga komunitas yang membangun kebersamaan, solidaritas, dan praktik saling mendukung. Pendekatan kami adalah melihat persoalan ini secara lebih komprehensif,” tambahnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, program Trauma Kota diinisiasi sebagai ruang temu antara seni, warga, dan pemerintah melalui rangkaian pameran foto, seni performansi, diskusi publik, serta lokakarya.

Kegiatan ini dirancang untuk digelar di lima kecamatan yang dinilai merasakan dampak signifikan dari fenomena geng motor, yakni Kecamatan Ujung Pandang, Mariso, Mamajang, Rappocini, dan Manggala.

Baca juga:  Rakerpim IMM Makassar, Munafri Dorong Sinergi Pembangunan Kota yang Inklusif

Rangkaian kegiatan tersebut meliputi pameran foto yang menampilkan dokumentasi dan refleksi visual terkait fenomena geng motor, diskusi publik dengan narasumber dari pihak kecamatan, penggagas program, dan psikolog eksternal, hingga pertunjukan seni performansi di ruang publik.

Selain itu, lokakarya pematangan konsep telah dilaksanakan sejak Februari 2026.

Workshop tersebut difokuskan pada pengembangan karya performansi yang nantinya akan dipentaskan di ruang publik.

Lokakarya performansi telah dilaksanakan sebanyak tiga kali, dengan pelaksanaan terakhir pada Sabtu (28/02/2026) di Studio Kala Teater.

Program ini menggunakan pendekatan seni partisipatif yang mengedepankan kolaborasi antara warga, seniman, dan para pemangku kepentingan. Hal ini dianggap sebagai respons kultural yang strategis dan relevan dalam menyikapi persoalan sosial perkotaan.

“Adapun tujuan utama dari program ini adalah memulihkan rasa aman warga di ruang publik Kota Makassar, membuka ruang dialog, serta melakukan refleksi melalui medium seni. Kami juga mendorong keterlibatan aktif antara warga dan pemerintah dalam menciptakan ruang kota yang aman dan ramah,” jelasnya.

Sasaran program ini mencakup masyarakat Kota Makassar secara umum, generasi muda yang rentan terlibat fenomena geng motor, aparat penegak hukum, serta pemangku kepentingan lintas sektor.

Terkait jadwal pelaksanaan, kegiatan perdana direncanakan pada 21 April 2026 di Kantor Kecamatan Ujung Pandang.

Pameran foto berkonsep instalasi ini akan berlangsung selama sehari penuh di aula kantor kecamatan. Keesokan harinya akan digelar diskusi publik, dilanjutkan pertunjukan seni performansi, dan ditutup kembali dengan pameran foto.

Setelah dari Ujung Pandang, kegiatan serupa akan berlanjut ke Kantor Kecamatan Mariso dengan konsep yang sama, lalu dilanjutkan ke Kelurahan Mamajang Dalam.

Lokasi di Mamajang Dalam dipilih karena memiliki aula di lantai satu yang dinilai lebih mudah diakses oleh masyarakat umum dibandingkan aula di lantai tiga.

Baca juga:  Alumni SIP 54.2 Polda Sulsel Serahkan Bantuan Alat Kebersihan saat Acara Pengantar Tugas

Selanjutnya, pada 6 Mei 2026, rangkaian kegiatan menyambangi Kantor Kelurahan Balla Parang, Kecamatan Rappocini, dengan format pameran foto, diskusi publik, dan seni performansi.

Rangkaian ini akan ditutup di Kecamatan Manggala. Sebagai bentuk edukasi dan kolaborasi, setiap lokasi akan menampilkan foto-foto yang berbeda sesuai dengan konteks wilayah masing-masing.

Melalui sinergi ini, Pemerintah Kota Makassar berharap pendekatan kultural berbasis seni dapat menjadi salah satu strategi efektif dalam membangun kesadaran kolektif, memperkuat dialog sosial, serta menciptakan ruang kota yang lebih aman dan inklusif bagi seluruh warga.

Example 300x600
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *