banner 970x250
Internasional

Empat Hari Perang Lawan Iran, Kerugian Peralatan Militer AS Tembus Rp33,8 Triliun

×

Empat Hari Perang Lawan Iran, Kerugian Peralatan Militer AS Tembus Rp33,8 Triliun

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi (Ist)
Example 468x60

INTERNASIONAL – Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran semakin memanas serta mulai membawa dampak kerugian masif bagi pihak Washington.

Merespons eskalasi yang kian tak terkendali, militer AS terpaksa memobilisasi armada kapal induk ketiganya ke perairan Timur Tengah pada Minggu (08/03/2026), guna menghadapi rentetan gempuran balasan dari Teheran.

banner 300x600

Langkah pengerahan USS George H.W. Bush ini melengkapi kekuatan dua kapal induk lainnya yang sudah bersiaga lebih dulu, yakni USS Gerald R. Ford di kawasan Laut Merah serta USS Abraham Lincoln di Laut Arab.

Ketegangan ini memuncak usai operasi militer gabungan AS dan Israel pada akhir Februari lalu yang menargetkan sejumlah kota di Iran dan dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Sebagai bentuk pembalasan, Teheran melancarkan serangan udara masif yang menyasar Tel Aviv, Yerusalem, hingga berbagai fasilitas militer AS di kawasan Teluk.

Secara mengejutkan, para petinggi pertahanan AS secara tertutup di hadapan Kongres mengakui kelemahan sistem interceptor mereka dalam menghalau seluruh armada pesawat nirawak (drone) tipe Shahed milik musuh.

Karakteristik terbang drone bunuh diri tersebut yang sangat rendah dan lambat rupanya jauh lebih sulit dideteksi serta dilumpuhkan dibandingkan rudal balistik konvensional.

Kondisi teknis di lapangan ini seketika memicu kekhawatiran di kalangan parlemen AS terkait ketahanan stok logistik persenjataan mereka.

Senator asal Arizona, Mark Kelly, memperingatkan bahwa persediaan amunisi pertahanan udara Amerika Serikat bisa saja terkuras habis jika dihadapkan dengan tingkat produksi massal Teheran.

“Iran memiliki kemampuan untuk membuat banyak drone Shahed, rudal balistik jarak menengah dan jarak pendek, dan mereka memiliki persediaan yang sangat besar. Jadi pada titik tertentu ini menjadi persoalan matematika, bagaimana kita mengisi ulang amunisi pertahanan udara dan dari mana asalnya,” ujar Kelly mengkritisi situasi tersebut, seperti dikutip dari Kompas.

Baca juga:  Dendam Dideportasi, Bintang Porno Inggris Lecehkan Bendera Indonesia di Depan KBRI

Selain masalah ancaman udara yang sulit dibendung, operasi militer yang dicanangkan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump ini juga telah menguras kantong Departemen Pertahanan AS.

Tercatat, total kerugian peralatan tempur Amerika Serikat diperkirakan menembus angka 2 miliar dolar AS atau setara Rp33,8 triliun hanya dalam empat hari pertama peperangan.

Kerugian finansial terbesar disumbang oleh hancurnya sistem radar peringatan dini AN/FPS-132 di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar, akibat hantaman rudal Iran yang nilainya mencapai 1,1 miliar dolar AS.

Nasib nahas juga menimpa tiga jet tempur F-15E Strike Eagle milik AS yang hancur akibat insiden salah tembak oleh sistem pertahanan udara Kuwait.

Lebih lanjut, fasilitas terminal komunikasi satelit di markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain turut dilaporkan mengalami kerusakan parah akibat gelombang serangan balik Iran.

Kini, invasi militer di Timur Tengah tersebut mulai memicu polemik tajam di Capitol Hill. Perdebatan di kalangan anggota parlemen terus bergulir terkait durasi konflik, di mana sebagian memprediksi perang akan usai dalam hitungan minggu, sementara kubu lainnya khawatir operasi ini akan terseret menjadi perang panjang tanpa batas waktu yang jelas dan minim urgensi ancaman langsung terhadap daratan Amerika Serikat.

Example 300x600
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *