LUWU – Terobosan digital lahir dari lingkungan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kabupaten Luwu.
Sebuah inovasi bertajuk SIRI’NA (Sistem Repositori Penelitian dan Pengembangan) resmi diperkenalkan oleh Muhammad Iqbal Padli, Peneliti Ahli Pertama pada kantor Bappelitbangda, Kabupaten Luwu
SIRI’NA digadang-gadang sebagai solusi atas persoalan pengelolaan data riset yang selama ini masih tersebar dan belum terintegrasi.
Inovasi ini merupakan proyek perubahan dalam rangka aktualisasi Pelatihan Dasar (Latsar) CPNS Tahun 2026 di lingkungan Bappelitbangda Kabupaten Luwu, khususnya pada bidang penelitian dan pengembangan (litbang).
Masalah Lama, Solusi Digital
Selama ini, pengelolaan dokumen hasil penelitian di Bappelitbangda Luwu masih bersifat parsial.
Data tersimpan di komputer masing-masing pegawai atau dalam bentuk hardcopy yang rentan hilang dan sulit diakses.
Kondisi ini berdampak pada lambatnya proses penelusuran referensi dan belum optimalnya pemanfaatan hasil riset sebagai dasar pengambilan kebijakan.
Menjawab persoalan tersebut, seorang ASN penggagas SIRI’NA menjelaskan bahwa sistem ini dirancang sebagai repositori digital terpusat.
“SIRI’NA hadir sebagai solusi untuk menyatukan seluruh data penelitian dan inovasi daerah dalam satu platform yang mudah diakses. Ini bukan sekadar sistem penyimpanan, tapi juga upaya membangun budaya kerja berbasis data dan kolaborasi,” ujar Iqbal.
Ia menambahkan, filosofi nama Siri’ yang diangkat dari budaya lokal Luwu menjadi landasan moral dalam pengelolaan data.
“Siri’ itu tentang harga diri dan tanggung jawab. Kami ingin memastikan bahwa setiap hasil penelitian daerah dijaga, dimanfaatkan, dan menjadi rujukan dalam pembangunan,” jelasnya.
Dorong Transparansi dan Kebijakan Tepat Sasaran
Melalui SIRI’NA, seluruh data penelitian, publikasi ilmiah, hingga inovasi daerah dapat terdokumentasi secara sistematis dan terstruktur. Sistem ini juga membuka akses yang lebih luas bagi pemerintah, akademisi, hingga masyarakat.
Dengan demikian, kebijakan daerah diharapkan semakin berbasis bukti (evidence-based policy), lebih akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dukungan Penuh Pimpinan
Kepala Bappelitbangda Kabupaten Luwu, Moch Arsal Arsyad, memberikan apresiasi atas lahirnya inovasi tersebut.
“Ini adalah langkah maju yang sangat positif. SIRI’NA menunjukkan bahwa ASN kita mampu menghadirkan solusi konkret atas persoalan yang ada, sekaligus mendorong transformasi digital di sektor pemerintahan,” ungkapnya.
Menurutnya, keberadaan sistem ini akan memperkuat fungsi litbang sebagai “dapur kebijakan” daerah.
“Ke depan, kami berharap seluruh hasil penelitian tidak lagi tercecer, tetapi terintegrasi dan menjadi rujukan utama dalam perencanaan pembangunan. Ini penting untuk memastikan kebijakan yang diambil benar-benar berbasis data,” tambahnya.
Tahapan Pengembangan
Implementasi SIRI’NA dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari inventarisasi dokumen penelitian, pembangunan sistem, penyusunan SOP, hingga uji coba dan sosialisasi.
Proyek ini dijalankan selama masa habituasi Latsar CPNS, yakni Februari hingga April 2026.
Harapan ke Depan
Dengan hadirnya SIRI’NA, Bappelitbangda Luwu diharapkan mampu membangun ekosistem inovasi daerah yang lebih kuat, transparan, dan kolaboratif.
Tak hanya itu, inovasi ini juga menjadi bukti bahwa ASN tidak sekadar menjalankan tugas administratif, tetapi juga mampu melahirkan solusi strategis untuk kemajuan daerah.
















