NASIONAL – Istana Negara menjadi pusat berkumpulnya para intelektual bangsa pada Kamis (15/01/2026).
Presiden Prabowo Subianto mengundang secara khusus ribuan akademisi yang terdiri dari rektor dan guru besar dari berbagai Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Swasta (PTS) untuk sebuah pertemuan strategis.
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, mengungkapkan bahwa pertemuan ini dihadiri oleh kurang lebih 1.200 undangan.
Agenda utama pertemuan tersebut adalah penyamaan persepsi dan konsolidasi pemikiran antara pemerintah pusat dengan institusi pendidikan tinggi.
“Hari ini jadwalnya adalah berdiskusi dan membangun komunikasi. Ini adalah bagian dari agenda Bapak Presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan untuk menyampaikan pandangan-pandangan beliau, memberikan pembaruan (update) terhadap kondisi negara, situasi geopolitik dunia, serta rencana-rencana besar yang harus kita eksekusi ke depan,” ujar Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan, seperti dikutip dari IDN Times.
Dalam pertemuan yang digelar secara tertutup tersebut, pembahasan tidak hanya berkutat pada isu politik atau ekonomi makro semata.
Prasetyo menegaskan bahwa fokus utama diskusi justru mengarah pada penguatan fondasi bangsa, yakni Sumber Daya Manusia (SDM).
Menurutnya, ambisi pemerintah untuk mencapai swasembada pangan dan energi tidak akan berkelanjutan tanpa didopang oleh SDM yang kompeten.
“Selain kita mengejar dan bekerja keras mencapai swasembada pangan dan energi, maka salah satu fondasi utamanya adalah sumber daya manusia yang akan mengawakkan negara ini, baik untuk masa sekarang maupun menuju Indonesia Emas 2045,” jelasnya.
Salah satu sorotan tajam dalam sektor pendidikan dan kesehatan yang dibahas Presiden adalah defisit tenaga medis.
Data pemerintah menunjukkan bahwa Indonesia saat ini masih mengalami kekurangan sekitar 100.000 tenaga dokter.
Kondisi ini menuntut peran aktif perguruan tinggi untuk mempercepat akselerasi produksi tenaga medis yang berkualitas tanpa mengesampingkan standar kompetensi.
Presiden Prabowo meminta adanya sinergi konkret antara kebijakan pemerintah dan kurikulum pendidikan tinggi untuk menjawab tantangan krusial tersebut.
Pertemuan ini diharapkan menjadi titik tolak kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah dan kaum akademisi dalam merumuskan solusi atas berbagai persoalan kebangsaan.

















