RELIGI – Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW kembali menyapa umat Islam pada Jumat, 16 Januari 2026, yang bertepatan dengan tanggal 27 Rajab 1447 Hijriah.
Momentum ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan refleksi mendalam atas peristiwa agung yang memadukan dimensi spiritualitas tingkat tinggi dengan misteri alam semesta yang hingga kini terus menantang nalar manusia dan sains modern.
Mayoritas ulama sepakat bahwa Isra Mi’raj terjadi pada tahun ke-10 kenabian.
Dalam satu malam yang hening, Rasulullah SAW diperjalankan dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina (Isra), sebelum akhirnya diangkat menembus tujuh lapisan langit menuju Sidratul Muntaha (Mi’raj) untuk menerima perintah salat lima waktu secara langsung dari Allah SWT.
Meski merupakan wilayah keimanan, peristiwa ini memantik rasa ingin tahu para ilmuwan untuk mencari penjelasan rasional.
Prof. Husin Alatas, Dosen Fisika IPB University, menyebut bahwa perjalanan Isra (Makkah-Palestina) dalam waktu singkat kini sangat masuk akal dengan kemajuan teknologi penerbangan.
Namun, fenomena Mi’raj (naik ke langit) jauh lebih kompleks.
Husin mengajukan hipotesis bahwa perjalanan ini mungkin terjadi melalui “jembatan” ruang-waktu yang dalam fisika teoretis dikenal sebagai Einstein-Rosen Bridge atau lubang cacing (wormhole).
“Dalam teori relativitas Einstein, dimungkinkan adanya jalan pintas yang menghubungkan dua titik di alam semesta melalui dimensi ruang tambahan. Ini selaras dengan sinyalemen Al-Qur’an tentang langit yang memiliki ‘pintu-pintu’,” jelas Husin, seperti dikutip dari Republika.
Teori lain datang dari Hismatul Istiqomah (Universitas Negeri Malang) dan Muhammad Ihsan Sholeh (Universitas Negeri Jember) yang meneliti konsep Buraq, kendaraan Nabi, dari sudut pandang fisika kuantum.
Dalam jurnal Academic Journal of Islamic Studies (2020), mereka mengaitkan Buraq dengan teori Anihilasi.
Dalam konsep ini, tubuh fisik Nabi diasumsikan mengalami perubahan dari materi menjadi energi cahaya akibat interaksi dengan “antimateri” (dalam hal ini Malaikat Jibril).
Transformasi ini memungkinkan perjalanan dengan kecepatan cahaya, sebelum akhirnya termaterialisasi kembali menjadi bentuk fisik manusia setibanya di tujuan.
Buraq sendiri digambarkan sebagai energi cahaya berkecepatan tinggi, bukan sekadar hewan tunggangan mistis.
Terlepas dari berbagai teori ilmiah, para ulama menekankan bahwa Isra Mi’raj pada hakikatnya adalah mukjizat yang melampaui hukum alam.
Peristiwa ini adalah ujian keimanan; membedakan antara mereka yang percaya tanpa syarat (seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq) dan mereka yang mengingkari dengan logika semata (seperti Abu Jahal).
Kitab-kitab klasik seperti karya Syekh Bisri Musthofa menggambarkan peristiwa ini sebagai Rihlah Ilahiah atau wisata ketuhanan.
Sebuah “bonus” bagi Nabi Muhammad setelah mengalami tahun kesedihan (Amul Huzn).
“Isra Mi’raj mengajarkan harmonisasi langit dan bumi. Bumi mulia karena ditinggali Nabi, namun langit pun ‘cemburu’ dan ingin dikunjungi Sang Kekasih Allah,” ungkap narasi dalam kitab Tiryaqil Aghyar.
Inti dari perjalanan supranasional ini adalah perintah salat.
Berbeda dengan syariat lain yang diturunkan melalui perantara Jibril di bumi, perintah salat dijemput langsung oleh Nabi ke Sidratul Muntaha.
Hal ini menegaskan posisi salat sebagai ibadah paling sakral dan media komunikasi utama (mi’raj-nya orang mukmin) kepada Sang Pencipta.
Pada bulan Rajab ini, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak amalan sunnah.
Salah satu doa yang masyhur dibaca pada malam 27 Rajab berbunyi: “Allahumma inni as-aluka bimushaahadati asraaril muhibbiin…” yang berisi permohonan agar Allah merahmati hati yang sedih dan mengabulkan segala doa, sebagaimana Dia memuliakan Nabi Muhammad pada malam Isra Mi’raj.










