banner 970x250
Internasional

Tawarkan Diri Jadi Mediator, Vladimir Putin Turun Tangan Redakan Konflik Timur Tengah

×

Tawarkan Diri Jadi Mediator, Vladimir Putin Turun Tangan Redakan Konflik Timur Tengah

Sebarkan artikel ini
Foto: Pixabay
Example 468x60

INTERNASIONAL – Ketegangan yang membekap kawasan Timur Tengah pascaserangan udara militer Amerika Serikat (AS) dan Israel ke wilayah Iran memicu kekhawatiran global yang mendalam.

Merespons situasi tersebut, Presiden Rusia Vladimir Putin mengambil langkah proaktif dengan menawarkan diri sebagai mediator.

banner 300x600

Tawaran ini diajukan di tengah kecaman keras dari Kremlin yang secara terbuka menyebut gempuran Washington dan Tel Aviv ke Teheran sebagai “agresi tanpa provokasi.”

Manuver diplomatik tingkat tinggi tersebut dilakukan oleh Putin melalui sambungan telepon dengan sejumlah pemimpin negara Teluk pada Senin (02/03/2026).

Dalam kesempatan itu, ia berkomunikasi secara langsung dengan Presiden Uni Emirat Arab (UEA) Mohammed bin Zayed Al Nahyan, Raja Bahrain Hamad bin Isa Al Khalifa, dan Emir Qatar Tamim bin Hamad Al Thani.

Melalui dialog-dialog ini, Moskwa menawarkan kemitraan eratnya dengan Teheran sebagai jembatan strategis untuk menurunkan tensi konflik di kawasan.

Saat berbincang dengan Presiden UEA, Putin menyatakan kesiapannya untuk menjadi penyambung lidah guna menyampaikan keluhan negara tersebut kepada Iran atas rentetan serangan yang mereka alami.

Keterangan resmi Kremlin mencatat bahwa dalam pembicaraan tersebut, “kedua pihak menekankan perlunya gencatan senjata segera dan kembali ke proses politik dan diplomatik.”

Sementara itu, saat menghubungi Emir Qatar dan Raja Bahrain, Putin menyampaikan kekhawatiran atas potensi meluasnya perang dan menegaskan bahwa Rusia siap mengerahkan segala upaya demi menstabilkan kawasan.

Eskalasi militer ini sendiri bermula dari serangan udara mematikan yang dilancarkan oleh AS dan Israel pada Sabtu (28/02/2026).

Serangan tersebut kemudian memicu aksi balasan dari pihak Iran pada Minggu (01/03/2026), yang mulai menargetkan negara-negara Teluk, yang notabene adalah sekutu dekat Washington, menggunakan gempuran rudal dan drone.

Baca juga:  Pengakuan Palestina oleh Eropa, Trump Lontarkan Kritik Keras

Pada hari yang sama, Putin melontarkan kecaman keras atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yang ia sebut sebagai pembunuhan yang “sinis”.

Kementerian Luar Negeri Rusia bahkan menuding AS dan Israel telah menyeret Timur Tengah “ke dalam jurang eskalasi yang tak terkendali.”

Bagi Moskwa, menjaga hubungan kemitraan dengan Teheran adalah elemen krusial untuk mempertahankan sisa-sisa pengaruh politiknya di Timur Tengah, terutama pascatumbangnya Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Di sisi lain, Rusia dihadapkan pada realitas geopolitik yang kompleks.

Meski diuntungkan secara ekonomi dari lonjakan harga minyak dunia serta terpecahnya fokus AS dari Ukraina, dominasi militer AS dan Israel di kawasan tersebut sangat bertentangan dengan visi tatanan dunia multipolar yang diusung Putin.

Kendati melontarkan kecaman keras terhadap tindakan militer AS dan sekutunya, Rusia tetap berupaya bermain aman agar tidak merusak hubungan dengan pemerintahan Presiden AS Donald Trump.

Sikap kehati-hatian ini diambil mengingat Trump saat ini tengah memediasi perundingan damai untuk menyelesaikan konflik Ukraina.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, secara terbuka menegaskan posisi pragmatis negaranya terkait hal ini.

“Kami memiliki kepentingan kami sendiri yang harus kami lindungi, dan menjadi kepentingan kami untuk melanjutkan negosiasi ini (mengenai Ukraina),” terangnya, seperti dikutip dari Kompas.

Example 300x600
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *