banner 970x250
Nasional

Terkendala Cuaca, Jasad Korban yang Ditemukan di Jurang Belum Bisa Diangkat

×

Terkendala Cuaca, Jasad Korban yang Ditemukan di Jurang Belum Bisa Diangkat

Sebarkan artikel ini
Tim Gabungan mendapatkan serpihak dari Pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Pangkep-Maros, Sulsel. ANTARA/HO-BPBD Makassar
Example 468x60

NASIONAL – Upaya evakuasi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang jatuh di kawasan Pegunungan Bulusaraung, Sulawesi Selatan, menghadapi tantangan berat.

Tim SAR gabungan berhasil menemukan satu jenazah korban pada Minggu (18/1/2026), namun proses pengangkatan jenazah terpaksa ditunda akibat kondisi alam yang tidak bersahabat.

banner 300x600

Meskipun titik koordinat korban telah dikunci sejak pukul 14.20 WITA, hingga matahari terbenam sekitar pukul 18.30 WITA, tim penyelamat belum dapat mengevakuasi jasad tersebut.

Kepala Seksi Operasi dan Siaga Basarnas Makassar, Andi Sultan, mengungkapkan bahwa faktor cuaca buruk dan medan yang sangat ekstrem menjadi penghalang utama.

Jenazah korban yang teridentifikasi berjenis kelamin laki-laki tersebut berada di dalam jurang dengan kedalaman sekitar 200 meter dari titik serpihan pesawat.

“Kondisi medan sangat tidak kondusif dengan kabut yang teramat tebal. Jarak pandang personel di lokasi hanya berkisar 3 sampai 5 meter, ditambah kemiringan tebing yang nyaris 90 derajat,” ujar Andi Sultan, Minggu petang, dikutip dari Liputan6.

Tim SAR di lapangan sempat berupaya melakukan teknik penarikan dari atas (vertical rescue), namun risiko keselamatan bagi para personel dinilai terlalu tinggi.

Pasukan Search and Rescue Unit (SRU) 4 bahkan dilaporkan tidak menemukan akses aman untuk mendekat, sehingga diarahkan kembali ke posko induk.

Demi keamanan, tim memutuskan untuk mendirikan kamp darurat di sekitar lokasi dan menghentikan sementara operasi evakuasi.

Rencananya, proses evakuasi akan dimaksimalkan kembali pada Senin pagi, mulai pukul 05.00 WITA.

“Jika cuaca memungkinkan dan kabut menipis, kami merencanakan opsi evakuasi melalui jalur udara menggunakan helikopter. Kami terus berkoordinasi dengan pimpinan untuk teknisnya,” tambah Andi.

Operasi pencarian pada hari kedua ini melibatkan kekuatan penuh dengan total sekitar 1.200 personel gabungan dari Basarnas, TNI, dan Polri.

Baca juga:  Bupati Luwu Lepas 12 Atlet FPTI ke Pra Porprov Pangkep

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Makassar, Muhammad Arif Anwar, menjelaskan bahwa titik terang mulai terlihat pada pagi hari.

Sekitar pukul 08.02 WITA, tim gabungan berhasil menemukan serpihan besar yang diyakini sebagai badan pesawat (fuselage), bagian ekor, dan jendela pesawat di koordinat 04°54′ 44″ LS dan 119° 44′ 48″ BT.

Lokasi ini berada di perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep dengan kontur pegunungan yang terjal.

Setelah penemuan puing, fokus operasi dialihkan pada pencarian korban selamat.

Sayangnya, pada siang harinya, tim menemukan satu korban dalam kondisi meninggal dunia tak jauh dari lokasi serpihan utama.

“Korban ditemukan di kedalaman jurang dan berada di sekitar serpihan pesawat. Saat ini prioritas kami adalah mengevakuasi korban tersebut secepat mungkin begitu cuaca membaik,” tegas Muhammad Arif Anwar.

Pangdam XIV/Hasanuddin, Mayjen TNI Bangun Nawoko, turut memantau jalannya operasi. Ia menyebutkan bahwa teknik rappelling dari atas tebing menjadi satu-satunya cara menjangkau korban di lokasi sesulit itu.

Nantinya, jika berhasil diangkat, jenazah akan dievakuasi melalui jalur darat via Posko Tompobulu, Kecamatan Balocci, Pangkep, untuk dibawa ke RS Bhayangkara.

Di tempat terpisah, proses identifikasi korban mulai dilakukan secara paralel.

Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat bergerak cepat mendatangi kediaman salah satu kru pesawat, yakni pramugari atas nama Esther Aprilita S.

Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat, Kombes Pol Hendra Rochmawan, menyatakan bahwa tim DVI telah mengambil sampel DNA pembanding dari pihak keluarga korban di Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor.

“Pengambilan data antemortem dan sampel DNA ini krusial untuk proses identifikasi ilmiah nanti, mengingat kondisi korban yang mungkin sulit dikenali secara visual,” jelas Hendra.

Baca juga:  Program MBG Tingkatkan Permintaan Pangan, Luhut: Itu Tanda Ekonomi Bergerak

Pesawat naas dengan rute Yogyakarta-Makassar ini membawa total 10 orang, yang terdiri dari 7 kru dan 3 penumpang pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Sembilan orang lainnya hingga kini masih dalam proses pencarian di sekitar lokasi jatuhnya pesawat.

Berikut adalah daftar nama kru dan penumpang berdasarkan manifest: Kru: Kapten Andi Dahananto, Muhammad Farhan Gunawan, Hariadi, Restu Adi, Dwi Murdiono, Florencia Lolita, dan Esther Aprilita. Penumpang: Ferry Irrawan, Deden Mulyana, dan Yoga Nauval.

Example 300x600
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *