INTERNASIONAL – Tekanan publik terhadap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, semakin memanas pasca perilisan jutaan dokumen terkait mendiang predator seksual Jeffrey Epstein oleh Departemen Kehakiman AS (DOJ).
Situasi ini memicu reaksi emosional dari Trump yang terekam jelas saat ia meluapkan kemarahannya kepada awak media di Gedung Putih.
Dokumen yang dikenal sebagai “Epstein Files” tersebut dirilis secara masif pada Jumat (30/1/2026), memuat sekitar 3 juta halaman arsip serta ribuan video.
Fakta yang paling menyita perhatian publik adalah munculnya nama Donald Trump lebih dari 1.800 kali dalam berkas penyelidikan tersebut, yang memicu spekulasi liar mengenai kedalaman hubungan sang Presiden dengan jaringan perdagangan seks anak di bawah umur yang dijalankan Epstein.
Ketegangan memuncak pada Hari Selasa (3/2/2026), ketika Trump menggelar sesi tanya jawab di Ruang Oval.
Suasana berubah drastis saat koresponden CNN, Kaitlan Collins, menyinggung kekecewaan para korban Epstein terhadap penyensoran sebagian informasi dalam dokumen yang baru dirilis.
Collins bertanya mengenai transparansi dan keadilan bagi para penyintas.
Alih-alih memberikan jawaban substantif, Trump justru melancarkan serangan personal.
Ia menolak menanggapi isu korban dan malah mengkritik penampilan serta sikap Collins.
“Saya rasa saya belum pernah melihat Anda tersenyum. Saya sudah mengenal Anda selama 10 tahun. Saya rasa saya belum pernah melihat senyum di wajah Anda,” ujar Trump dengan nada tinggi.
Ketika Collins mencoba meluruskan bahwa ia bertanya tentang korban pelecehan seksual, sebuah topik yang serius, Trump memotong pembicaraan dan menghina jurnalis tersebut.
“Anda tahu, Anda reporter terburuk,” cecar Trump, sembari menuding CNN sebagai organisasi media yang tidak jujur.
Tak lama setelah insiden tersebut, para asisten pers Gedung Putih segera meminta wartawan untuk meninggalkan ruangan, sementara Trump masih terdengar melontarkan keluhan mengenai Collins.
Dalam kesempatan yang sama, Trump berupaya keras mengalihkan fokus publik dari isi dokumen tersebut.
Ia bersikeras bahwa tidak ada bukti kesalahan yang mengarah padanya, meskipun namanya disebut ribuan kali.
Trump justru membangun narasi bahwa perilisan dokumen ini adalah serangan politik.
“Saya pikir memang sudah saatnya negara ini beralih ke hal lain, sekarang setelah tidak ada apa pun yang muncul tentang saya, selain bahwa ini adalah konspirasi terhadap saya,” klaim Trump, dikutip pada Hari Rabu (4/2/2026).
Trump menuduh bahwa skandal ini sengaja dihembuskan oleh Jeffrey Epstein (semasa hidup) yang bersekongkol dengan seorang jurnalis bernama Michael Wolff dan pihak Partai Demokrat untuk menggagalkan karier politiknya.
“Ini benar-benar masalah Demokrat. Ini bukan masalah Partai Republik,” tegasnya.
Trump juga mencoba meremehkan penyebutan nama tokoh lain seperti Elon Musk dan Menteri Perdagangan Howard Lutnick, dengan menyatakan bahwa jika ada bukti kuat, hal itu pasti sudah menjadi berita besar.
Meski kini berusaha menjauhkan diri, rekam jejak digital dan arsip media menunjukkan kedekatan Trump dan Epstein di masa lalu.
Pada tahun 2002, dalam sebuah profil di New York Magazine, Trump pernah secara terbuka memuji Epstein sebagai “pria hebat” yang menyenangkan untuk diajak bergaul.
“Bahkan dia menyukai perempuan cantik sama seperti saya, dan banyak dari mereka yang masih muda,” ucap Trump dalam wawancara lawas tersebut, sebuah kutipan yang kini kembali viral dan memojokkan posisinya.
Hubungan keduanya dikabarkan retak sekitar tahun 2004, diduga akibat perselisihan properti di Palm Beach dan perilaku Epstein yang tidak pantas terhadap anak di bawah umur di klub Mar-a-Lago milik Trump.
Kini, dengan terbukanya arsip DOJ yang disahkan oleh undang-undang parlemen AS pada akhir 2025, masa lalu tersebut kembali membayangi kepemimpinan Trump di tengah upayanya untuk menutup buku atas kasus ini.
















