INTERNASIONAL – Ibu kota Pakistan kembali dilanda tragedi kemanusiaan yang mengerikan. Sebuah serangan bom bunuh diri yang menargetkan minoritas Syiah meledak di tengah pelaksanaan ibadah salat Jumat (06/02/2026), mengubah area peribadatan menjadi zona pembantaian.
Insiden ini tercatat sebagai serangan paling mematikan di Islamabad dalam kurun waktu hampir dua dekade terakhir.
Berdasarkan data yang dihimpun hingga Sabtu (07/02/2026), otoritas setempat mengonfirmasi sedikitnya 31 nyawa melayang dan 169 orang lainnya menderita luka-luka, mulai dari ringan hingga kritis.
Lokasi kejadian berada di Masjid Imam Bargah Qasr-e-Khadijatul Kubra, yang terletak di kawasan Tarlai, pinggiran kota Islamabad.
Saksi mata dan aparat keamanan melukiskan detik-detik mencekam saat pelaku mencoba merangsek masuk.
Tidak langsung meledakkan diri, pelaku yang membawa senjata api sempat terlibat baku tembak dengan relawan keamanan masjid di gerbang utama.
Imran Mahmood, salah satu jemaah yang selamat, menuturkan kepada awak media bahwa pelaku ditembak oleh petugas keamanan tepat di bagian paha saat mencoba menerobos barisan.
Namun, upaya tersebut gagal menghentikan niat jahat pelaku.
“Pelaku bom bunuh diri itu memaksa maju. Meski tertembak, dia tetap meledakkan muatan bahan peledak yang dibawanya tepat saat kami sedang melakukan rukuk rakaat pertama,” ujar Muhammad Kazim (52), seperti dikutip dari Detik.
Hussain Shah, yang saat itu berada di halaman masjid, menggambarkan pemandangan mengerikan pasca-ledakan dengan puluhan jenazah bergelimpangan di area dalam masjid.
Rumah sakit Institut Ilmu Kedokteran Pakistan seketika dipenuhi oleh korban yang diangkut menggunakan ambulans hingga bagasi kendaraan pribadi warga.
Kelompok ekstremis Islamic State (ISIS) melalui saluran propagandanya secara resmi mengklaim bertanggung jawab atas aksi keji tersebut.
Mereka menyatakan anggotanya sengaja menargetkan komunitas Syiah dengan rompi peledak guna menimbulkan korban jiwa massal.
Serangan ini membangkitkan trauma lama warga Islamabad akan insiden bom Hotel Marriott tahun 2008 yang menewaskan 60 orang. Namun, dimensi serangan kali ini meluas ke ranah diplomatik yang panas.
Pemerintah Pakistan, melalui Menteri Pertahanan Khawaja Mohammad Asif dan juru bicara Perdana Menteri Mosharraf Zaidi, melontarkan tuduhan serius.
Mereka mengindikasikan bahwa serangan ini diorkestrasi oleh kekuatan asing, secara spesifik menyebut India dan Afghanistan yang menggunakan “proksi teroris” untuk mendestabilisasi Pakistan dan menghambat pemulihan ekonomi negara tersebut.
Asif bahkan menyebut pelaku terindikasi memiliki riwayat perjalanan ke Afghanistan.
Tuduhan Islamabad langsung menuai reaksi keras dari New Delhi dan Kabul.
Kementerian Luar Negeri India pada Jumat (06/02/2026) mengeluarkan pernyataan tegas yang menolak segala bentuk keterlibatan, menyebut tuduhan Pakistan sebagai upaya “menipu diri sendiri” dan “tidak berdasar”.
India turut menyampaikan belasungkawa resmi atas jatuhnya korban sipil.
Senada dengan India, Kementerian Pertahanan Afghanistan juga menyangkal tudingan tersebut.
Dalam pernyataan resminya, Kabul menegaskan bahwa pemerintah mereka tidak pernah membenarkan tindakan yang melukai warga sipil demi tujuan politik apa pun dan mengutuk pelanggaran terhadap kesucian tempat ibadah.
Di tengah hiruk-pikuk saling tuding antarnegara, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif bersumpah akan memburu dalang di balik serangan ini dan menyeret mereka ke pengadilan.
Sementara itu, prosesi pemakaman para korban dijadwalkan berlangsung sepanjang akhir pekan ini di tengah duka yang mendalam.











