PALOPO – Staf Ahli Bidang Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Kota Palopo, Taufik Gurrahman, mewakili Wali Kota Palopo hadir sebagai audiens sekaligus pengguna lulusan (stakeholder) dalam kegiatan Visitasi (Asesmen Lapangan) Akreditasi Program Studi Manajemen Bisnis Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Palopo.
Kegiatan ini berlangsung di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Palopo Lantai I, Senin (6/7/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Rektor UIN Palopo, Abbas Langaji, memaparkan visi kampus yang mengusung tagline “Smart and Green Campus”.
Menurutnya, tagline tersebut mencerminkan komitmen kampus dalam memadukan transformasi digital yang modern (smart) dengan kelestarian lingkungan akademik (green).
Abbas menjelaskan, dalam tiga tahun terakhir UIN Palopo telah melakukan transformasi digital pada layanan administrasi akademik hingga mencapai 95 persen.
Dalam konteks green campus, UIN Palopo mengikuti kebijakan Menteri Agama RI untuk mewujudkan kampus ramah lingkungan berbasis ekoteologi.
“Kami sudah mencanangkan kampus ramah lingkungan yang bebas dari sampah plastik dan minuman kemasan sekali pakai. Setiap tenaga pendidik kini telah menyiapkan tumbler masing-masing,” jelas Abbas.
Saat ini, UIN Palopo menaungi 18 program studi.
Abbas berharap proses akreditasi Program Studi Manajemen Bisnis Syariah ini dapat meraih hasil terbaik yang menjadi kebanggaan dan kehormatan bersama.
Sementara itu, Staf Ahli Bidang Kesra Setda Kota Palopo, Taufik Gurrahman, dalam sesi wawancara memberikan tanggapannya mengenai peran strategis kampus di Palopo.
Ia menyebutkan bahwa Kota Palopo kini menjadi kota pendidikan tinggi kedua di Sulawesi Selatan setelah Kota Makassar, baik dari segi jumlah perguruan tinggi maupun total mahasiswa.
Taufik mengungkapkan, Kota Palopo memiliki 14 perguruan tinggi dengan jumlah mahasiswa mencapai sekitar 40 ribu orang berdasarkan data Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI).
Para mahasiswa tersebut berasal dari 23 provinsi dan sekitar 130 kabupaten/kota di Indonesia.
Bahkan, terdapat mahasiswa asing asal Timor Leste, Thailand, Filipina, hingga Burkina Faso (Afrika Tengah).
“Bagi Pemerintah Kota Palopo, eksistensi perguruan tinggi dengan jumlah mahasiswa yang begitu besar sangat berkontribusi terhadap perputaran ekonomi dan aktivitas sosial masyarakat. Kalau hanya mengandalkan APBD sangat sulit, apalagi di tengah efisiensi anggaran saat ini. Kampus menjadi penggerak ekonomi karena Palopo telah menjadi alternatif pilihan tempat kuliah, tidak hanya bagi warga Sulawesi Selatan, tetapi juga Indonesia Timur,” terang Taufik.
Terkait keberadaan FEBI UIN Palopo, Taufik menilai fakultas ini mengemban amanah besar untuk menjawab kebutuhan masyarakat, khususnya di wilayah Tanah Luwu, serta menjadi pilihan utama bagi calon mahasiswa.
Pemerintah Kota Palopo mengapresiasi kerja keras yang telah dilakukan seluruh jajaran UIN Palopo, khususnya FEBI.
Taufik berharap sinergi dan kolaborasi yang terjalin ke depan dapat terus mendorong kemajuan FEBI UIN Palopo.
















