banner 970x250
News

Fenomena Awan Pelangi Hiasi Langit Bogor, Warga Jonggol Hingga Sentul Dibuat Takjub

×

Fenomena Awan Pelangi Hiasi Langit Bogor, Warga Jonggol Hingga Sentul Dibuat Takjub

Sebarkan artikel ini
Foto: Liputan6/Ist
Example 468x60

RAGAM – Masyarakat di wilayah Bogor, Jawa Barat, sempat dibuat heboh oleh kemunculan fenomena awan warna-warni layaknya pelangi pada Jumat (01/05/2026).

Pemandangan optik yang memukau ini terlihat jelas menghiasi langit di sekitar kawasan Jonggol, Sentul City, hingga Cileungsi sekitar pukul 14.00 WIB.

banner 300x600

Keindahan fenomena langka yang menampilkan gradasi merah muda, hijau, biru, dan ungu ini tak pelak menarik perhatian warga dan menjadi viral di media sosial.

Fenomena optik tersebut diketahui bertahan cukup lama di langit biru yang cerah, yakni sekitar 40 menit.

Pemandangan memukau ini bahkan sempat membuat arus lalu lintas sedikit melambat karena banyak pengendara motor yang antusias memilih menepi ke bahu jalan demi bisa merekam momen langka tersebut dengan kamera ponsel mereka.

Menanggapi viralnya visual awan tersebut, Pelaksana Harian Direktur Meteorologi Publik BMKG, Ida Pramuwardani, memastikan bahwa itu adalah fenomena optik atmosfer yang wajar terjadi.

Warna-warni itu muncul akibat pembiasan cahaya matahari pada butiran air di udara yang bersumber dari sisa hujan di wilayah sekitar.

“Pada saat yang sama, tampak adanya awan towering cumulus yang dapat menutupi sebagian pelangi. Sehingga bentuknya terlihat tidak utuh atau tampak seperti ‘awan pelangi’,” ujar Ida menjelaskan wujud gumpalan awan tersebut, seperti dikutip dari RRI.

BMKG juga menegaskan bahwa kemunculan awan ini bukan indikasi datangnya badai besar atau bencana, melainkan sekadar tanda adanya pertumbuhan awan aktif di atmosfer yang berpotensi memicu hujan lokal.

Secara keilmuan global, fenomena langka ini dinamakan awan iridesensi (cloud iridescence).

Menurut badan antariksa NASA dan World Meteorological Organization (WMO), kejadian ini dipicu oleh difraksi cahaya matahari saat melewati tetesan air atau kristal es berukuran sangat kecil (1-10 mikron) di dalam awan tipis seperti cirrus atau altocumulus.

Baca juga:  BMKG Prediksi El Nino Melanda Paruh Kedua 2026, BPBD Palopo Minta Masyarakat Waspada

Peneliti dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menambahkan bahwa fenomena difraksi ini lebih mudah diamati saat matahari berada pada sudut yang rendah.

Namun, para ahli memperingatkan agar masyarakat berhati-hati dan tidak menatap arah matahari secara langsung agar retina mata tidak mengalami kerusakan.

“Warna-warna tersebut sering terlihat di tepi awan atau di dekat posisi matahari, sehingga pengamatan harus dilakukan dengan hati-hati,” demikian penjelasan ilmiah yang dirilis oleh NOAA.

Example 300x600
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *