RAGAM – Sebuah anomali mengkhawatirkan sedang terjadi dalam pola perkembangan intelektual manusia.
Jika selama berdekade-dekade tongkat estafet kecerdasan selalu menunjukkan peningkatan pada generasi penerus, tren tersebut kini resmi terputus di tangan Generasi Z.
Para pakar ilmu saraf di Amerika Serikat mengeluarkan peringatan keras bahwa Gen Z adalah kelompok demografis pertama yang mengalami kemunduran dalam perkembangan kognitif dan tingkat kecerdasan jika dibandingkan dengan pendahulu mereka, kaum Milenial.
Temuan ini menahbiskan Milenial sebagai generasi penutup yang masih menikmati grafik pertumbuhan intelektual positif.
Jared Cooney Horvath, seorang ahli saraf terkemuka asal AS, membedah penyebab fenomena ini di hadapan Komite Senat Amerika Serikat.
Ia menegaskan bahwa penurunan kualitas otak ini bukan kejadian acak, melainkan dampak langsung dari integrasi teknologi pendidikan (EdTech) yang berlebihan.
Menurut paparan Horvath, kemerosotan kemampuan Gen Z terjadi secara menyeluruh pada fungsi-fungsi vital otak.
Mulai dari merosotnya durasi fokus (atensi), melemahnya ingatan, hingga penurunan drastis pada kemampuan dasar seperti membaca, berhitung, dan memecahkan masalah kompleks.
“Data berbicara fakta yang pahit: ketika sebuah negara mulai menerapkan teknologi digital secara masif dalam kurikulum sekolahnya, performa akademis justru terjun bebas,” ungkap Horvath, melansir laporan Wion yang dikutip dari Kompas.
Statistik mencatat bahwa titik balik penurunan kognitif ini bermula sekitar tahun 2010.
Situasi ini menciptakan sebuah paradoks besar: Gen Z secara teknis menghabiskan jam sekolah yang jauh lebih panjang daripada generasi sebelumnya, namun hasilnya justru kurang memuaskan.
Lebih lanjut, Horvath menjelaskan ketidakcocokan antara biologi otak manusia dengan metode konsumsi informasi modern.
Ia menyoroti bahaya ketergantungan pada Artificial Intelligence (AI) dan konten-konten video berdurasi singkat.
Mekanisme otak manusia, menurut Horvath, tidak berevolusi untuk menyerap ilmu melalui potongan klip pendek atau ringkasan instan yang disajikan layar digital.
Ketergantungan pada jawaban cepat dari AI dinilai telah menumpulkan pisau analisis kritis yang seharusnya dipertajam melalui proses belajar yang mendalam dan perlahan.
“Bayangkan, lebih dari 50 persen waktu sadar seorang remaja masa kini habis hanya untuk menatap layar,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa penguasaan konsep-konsep rumit menuntut interaksi sosial yang nyata, bertukar pikiran dengan guru dan teman sekelas, serta membaca buku fisik secara utuh.
Evolusi manusia menuntut keterlibatan fisik dan sosial dalam belajar, bukan sekadar memindai poin-poin ringkas di gawai.
Krisis kognitif ini rupanya bukan hanya monopoli Amerika Serikat.
Pola identik terdeteksi di setidaknya 80 negara lain yang telah melakukan digitalisasi ruang kelas secara agresif.
Horvath menutup dengan pandangan skeptis terhadap solusi yang bersifat teknis.
Menurutnya, sekadar memperbarui perangkat lunak atau mencari metode pengajaran digital baru adalah langkah sia-sia.
Masalah utamanya terletak pada fundamental teknologi itu sendiri yang berlawanan dengan cara alami otak memproses dan menyimpan memori.
Data historis enam dekade terakhir memperkuat argumen ini: semakin dominan peran teknologi dalam kelas, semakin rendah kualitas pembelajaran yang dihasilkan.















