banner 970x250
InternasionalNews

67 Migran Tewas, Spanyol Pasang Penghalang Laut di Perbatasan Ceuta

5
×

67 Migran Tewas, Spanyol Pasang Penghalang Laut di Perbatasan Ceuta

Sebarkan artikel ini
67 Migran Tewas, Spanyol Pasang Penghalang Laut di Perbatasan Ceuta
Pedro Sánchez meninjau pengamanan di perbatasan Tarajal, Ceuta. Foto: Pool Moncloa/Borja Puig de la Bellacasa
Example 468x60

INTERNASIONAL – Pemerintah Spanyol mulai memasang penghalang terapung sepanjang 500 meter di kawasan perbatasan Ceuta setelah gelombang penyeberangan massal dari Maroko menewaskan sedikitnya 67 orang.

Pemasangan dimulai di pemecah gelombang Tarajal pada Sabtu (01/08/2026), setelah arus masuk migran dilaporkan berhenti dan situasi di kota otonom Spanyol tersebut berangsur kembali terkendali.

banner 300x600

Kementerian Dalam Negeri Spanyol menyebut penghalang itu terdiri atas struktur pneumatik yang berada sekitar 30 hingga 70 sentimeter di atas permukaan laut dan menjangkau kedalaman hingga satu meter.

Barikade tersebut dilengkapi deretan pelampung berjangkar yang disediakan Angkatan Laut Spanyol.

Sebuah jalur tetap disediakan di antara struktur tersebut agar kapal Guardia Civil dapat melakukan patroli dan pengawasan.

Informasi teknis itu disampaikan Kementerian Dalam Negeri Spanyol dan diberitakan media nasional El País, serta dikonfirmasi dalam laporan Reuters.

Jumlah korban meninggal meningkat menjadi 67 orang setelah petugas kembali menemukan jenazah di sekitar pesisir dan perbatasan Tarajal.

Kementerian Dalam Negeri Spanyol menyatakan Guardia Civil masih melakukan pencarian di perairan dan kawasan sekitar pemecah gelombang.

Sebagian korban dilaporkan tenggelam, sedangkan lainnya meninggal setelah terhimpit ketika kerumunan berusaha melewati penghalang perbatasan.

Sekitar 50 ribu orang diperkirakan memasuki Ceuta melalui jalur darat dan laut sejak Kamis (30/07/2026).

Pemerintah Spanyol menyebut lebih dari 48 ribu orang telah kembali ke Maroko dalam waktu kurang dari 48 jam.

Tidak ada migran dari gelombang kedatangan tersebut yang dilaporkan berhasil melanjutkan perjalanan menuju daratan utama Spanyol.

Setiap orang yang keluar dari Ceuta melalui laut maupun udara tetap harus menjalani pemeriksaan identitas oleh kepolisian.

Ceuta merupakan wilayah Spanyol yang berada di pesisir utara Afrika.

Baca juga:  Berani Tolak Tekanan Negara Adidaya, PM Sanchez Sebut Spanyol Punya Kekuatan Moral

Bersama Melilla, wilayah tersebut menjadi salah satu dari dua perbatasan darat antara Uni Eropa dan benua Afrika.

Pemerintah Spanyol meningkatkan jumlah personel Polisi Nasional dan Guardia Civil di Ceuta serta mengerahkan unsur militer untuk membantu pengamanan.

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez juga mendatangi perbatasan Tarajal bersama Menteri Dalam Negeri Fernando Grande-Marlaska pada Jumat (31/07/2026).

Dalam keterangan yang dikutip dari situs resmi Pemerintah Spanyol, Sánchez menyatakan seluruh sumber daya negara akan digunakan untuk memulihkan keamanan dan kehidupan masyarakat Ceuta.

“Kami akan menggunakan seluruh sumber daya negara untuk menjamin keamanan warga Ceuta,” kata Sánchez.

Ia menyebut penyeberangan massal tersebut sebagai pelanggaran terhadap integritas teritorial Spanyol.

Namun, Sánchez juga menyampaikan duka atas banyaknya korban yang meninggal dalam perjalanan.

Pemerintah Spanyol menduga kelompok penyelundup manusia memanfaatkan putusan pengadilan dan menyebarkan informasi menyesatkan untuk meyakinkan masyarakat bahwa perbatasan dapat dilewati dengan mudah.

Menurut Sánchez, kelompok tersebut telah menipu banyak anak muda dan mendorong mereka mengambil jalur berbahaya melalui laut.

Pemerintah kemudian menambah personel keamanan sekitar 10 persen, menyiapkan pusat penanganan sementara, mempercepat pemeriksaan keimigrasian, serta memasang pelampung dan penghalang fisik di Tarajal.

Spanyol menyatakan telah berkoordinasi dengan Pemerintah Maroko untuk menghentikan penyeberangan baru dan mempercepat pemulangan warga yang kembali dari Ceuta.

Ribuan orang dilaporkan meninggalkan Ceuta setelah mengetahui bahwa mereka tidak dapat meneruskan perjalanan menuju daratan utama Spanyol atau negara lain di kawasan Schengen.

Otoritas Maroko juga mengangkut sebagian warga menggunakan bus dari kawasan perbatasan Fnideq atau Castillejos menuju daerah asal mereka.

Sejumlah anak muda sebelumnya disebut datang setelah memperoleh informasi melalui media sosial bahwa jalur menuju Ceuta sedang terbuka.

Baca juga:  Raih 86 Emas, Kontingen Indonesia Berpeluang Salip Rekor SEA Games Kamboja

Situasi di Ceuta mulai stabil pada Sabtu.

Penyeberangan dalam jumlah besar berhenti, sementara aparat keamanan masih berjaga di pesisir dan jalur perbatasan.

Meski demikian, beberapa kelompok kecil dilaporkan masih terlihat bergerak menuju kawasan pantai di sisi Maroko sehingga pengamanan belum dikurangi.

Gelombang kedatangan tersebut memicu perdebatan mengenai keamanan perbatasan eksternal Uni Eropa.

Sebanyak 22 pemerintah negara Eropa dilaporkan meminta pertemuan darurat para menteri dalam negeri.

Mereka mengusulkan respons bersama, termasuk kemungkinan penambahan dukungan dari badan penjaga perbatasan Uni Eropa, Frontex, dan evaluasi kerja sama migrasi dengan Maroko.

Sánchez juga meminta institusi Uni Eropa menggelar pertemuan untuk membahas krisis tersebut.

Ia mengkritik negara yang merespons dengan memperketat hubungan perjalanan terhadap Spanyol, alih-alih memberikan solidaritas.

Pemerintah Spanyol menegaskan pengawasan di Ceuta tetap berlapis dan tidak membuka akses bebas bagi migran untuk bergerak menuju wilayah Schengen.

Krisis itu kembali memperlihatkan dua tantangan yang harus ditangani secara bersamaan, yakni perlindungan perbatasan dan penyelamatan manusia yang mengambil jalur berbahaya akibat tekanan ekonomi, informasi menyesatkan, maupun aktivitas jaringan penyelundupan.

Example 300x600
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *