banner 970x250
Nasional

Fakta Baru Pencarian Jurnalis Hilang, Pelampung Dipastikan Bukan dari Arupadhatu 1

14
×

Fakta Baru Pencarian Jurnalis Hilang, Pelampung Dipastikan Bukan dari Arupadhatu 1

Sebarkan artikel ini
Fakta Baru Pencarian Jurnalis Hilang, Pelampung Dipastikan Bukan dari Arupadhatu 1
Jaket pelampung yang ditemukan KAL Anyer TNI AL saat operasi pencarian lima jurnalis dan tiga awak kapal di Selat Sunda, Kamis (10/09/2026). Hasil pemeriksaan memastikan benda tersebut bukan perlengkapan Kapal Arupadhatu 1. Foto: Dok. TNI AL/Dispenal
Example 468x60

NASIONAL – Temuan life jacket berwarna oranye dan pelampung putih dalam operasi pencarian lima jurnalis serta tiga kru kapal di Selat Sunda dipastikan bukan bagian dari perlengkapan keselamatan Kapal Arupadhatu 1.

Kepastian itu membuat benda yang sebelumnya diperiksa sebagai kemungkinan petunjuk kini dikesampingkan, sementara keberadaan delapan orang dalam rombongan tersebut masih dicari.

banner 300x600

Kapolda Banten Hengki mengatakan hasil pemeriksaan terhadap barang temuan dan keterangan pemilik kapal memastikan keduanya tidak berasal dari Arupadhatu 1.

“Berdasarkan hasil pemeriksaan (pelampung) bukan merupakan milik Kapal Arupadhatu 1 yang sampai sekarang belum ditemukan,” kata Hengki di Pos SAR Dermaga Marina Carita, sebagaimana dikutip Metro TV dari ANTARA, Jumat (11/09/2026).

Kepolisian juga telah meminta keterangan pemilik Arupadhatu 1, Sandi.

Pemeriksaan tersebut memperkuat kesimpulan bahwa life jacket dan pelampung putih yang ditemukan tidak termasuk perlengkapan keselamatan kapal yang membawa rombongan jurnalis.

Temuan itu sebelumnya didapat KAL Anyer I-3-64 dalam penyisiran pada Kamis (10/09/2026).

Berdasarkan keterangan TNI AL yang dilaporkan ANTARA, life jacket berwarna oranye ditemukan sekitar pukul 15.10 WIB pada koordinat 06°04’40” Lintang Selatan dan 105°45’17” Bujur Timur.

Di sekitar lokasi tersebut, petugas juga menemukan pelampung berbentuk botol berwarna putih.

Lokasi penemuan disebut sekitar 7,5 mil laut di sebelah barat Suar Tanjung Koneng Anyer atau sekitar 20 mil laut di timur laut Gunung Anak Krakatau.

TNI AL saat itu belum mengaitkan temuan tersebut dengan rombongan yang dicari dan meminta publik menunggu proses identifikasi.

Hasil identifikasi terbaru pada Jumat sekaligus memastikan barang tersebut tidak dapat digunakan sebagai petunjuk langsung untuk menentukan keberadaan Arupadhatu 1.

Sementara itu, tim SAR gabungan terus memperluas area pencarian.

Baca juga:  Seluruh Korban Pesawat ATR 42-500 Ditemukan

Memasuki operasi hari keempat pada Jumat (11/09/2026), wilayah penyisiran dibagi menjadi empat sektor utama dan satu sektor khusus dengan luas keseluruhan sekitar 3.243,7 nautical mile persegi.

Sebanyak 13 unsur laut dikerahkan, antara lain KN SAR Tetuka, KN SAR Basudewa, KRI Leuser, KRI Kerambit, KRI Lepu, KP Sanjaya, KP Hayabusa, KAL Anyer, KAL Pahawang, RIB Banten dan Lampung, RBB Pulau Peucang, serta TB Gunung Santri.

Pencarian juga diperkuat dua unit drone thermal.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten Al Amrad menyebut perluasan dilakukan setelah mengevaluasi pencarian sebelumnya dan mempertimbangkan perkembangan kondisi di lapangan.

Penyisiran melibatkan Basarnas, TNI AL, Polri, BPBD, pemerintah daerah, potensi SAR, relawan, hingga masyarakat.

Pencarian di sekitar pulau-pulau dekat Gunung Anak Krakatau juga menghadapi keterbatasan keselamatan.

Pulau Sertung, salah satu kawasan yang menjadi perhatian tim, belum dapat disisir secara langsung karena berada di kawasan rawan dekat gunung api.

Tim melakukan pemantauan visual dari jarak aman.

Badan Geologi dalam evaluasi terbarunya mempertahankan status Gunung Anak Krakatau pada Level III atau Siaga.

Masyarakat, wisatawan dan pendaki dilarang memasuki radius tiga kilometer dari pusat aktivitas gunung karena masih terdapat ancaman lontaran batu pijar, hujan abu lebat, hingga potensi aliran lava.

Basarnas memastikan operasi pencarian belum dihentikan.

Kepala Basarnas Mohammad Syafii mengatakan masa awal operasi SAR akan dioptimalkan selama tujuh hari sebelum dilakukan evaluasi bersama.

“Operasi terus kita laksanakan. Kalau mengacu kepada IAMSAR guidelines, operasi ini akan dilaksanakan berturut-turut selama tujuh hari,” kata Syafii, sebagaimana dikutip ANTARA.

Arupadhatu 1 membawa delapan orang yang hendak melakukan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Lima jurnalis tersebut yakni M. Bagus Khoirunnas dari ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu, serta Donal yang merupakan jurnalis lepas.

Baca juga:  Kemenag Imbau Cek Arah Kiblat pada 27 hingga 28 Mei

Tiga orang lainnya adalah Warta selaku kapten kapal, Surakman sebagai anak buah kapal, dan Heriyanto sebagai pemandu.

Rombongan bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, pada Senin (07/09/2026) sekitar pukul 14.00 WIB menuju kawasan Gunung Anak Krakatau.

Setelah kapal dilaporkan hilang kontak, operasi pencarian kemudian dilakukan di kawasan Selat Sunda.

Presiden Prabowo Subianto juga telah menginstruksikan Kepala Staf Angkatan Laut untuk membantu pencarian sejak laporan hilang kontak diterima.

Sekretariat Kabinet menyebut sedikitnya 11 kapal gabungan dikerahkan pada tahap sebelumnya untuk memperkuat operasi tersebut.

Hingga pembaruan pada Jumat (11/09/2026), Arupadhatu 1 beserta lima jurnalis dan tiga kru masih dalam pencarian.

Belum ada temuan yang telah dikonfirmasi berkaitan langsung dengan kapal maupun rombongan tersebut.

Example 300x600
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *