INTERNASIONAL – Krisis keuangan mengguncang Paraguay setelah Ueno Bank, salah satu bank digital terbesar di negara Amerika Selatan tersebut, mengalami kegagalan permodalan hingga harus ditangani Bank Sentral Paraguay.
Gangguan operasional bank tersebut membuat banyak nasabah kesulitan mengakses simpanan mereka.
Bank Sentral Paraguay atau Banco Central del Paraguay (BCP) secara resmi mengumumkan dimulainya proses penyelesaian bank bermasalah atau bank resolution terhadap Ueno Bank pada Selasa (03/11/2026).
Keputusan tersebut diambil berdasarkan resolusi Dewan Direksi BCP tertanggal Senin (02/11/2026), setelah pemeriksaan menemukan rasio solvabilitas bank berada di bawah 50 persen dari tingkat minimum yang dipersyaratkan regulator.
Dalam keterangan resminya, BCP menjelaskan bahwa kondisi tersebut diketahui setelah dilakukan penyesuaian terhadap laporan keuangan Ueno Bank selama proses pemeriksaan dan penyehatan.
“Langkah ini bertujuan menangani kondisi bank secara tertib, melindungi para penyimpan dana, serta menjaga stabilitas sistem keuangan,” demikian pernyataan BCP yang diterjemahkan dari pengumuman resmi pada Selasa (03/11/2026).
Proses penyelesaian dilakukan berdasarkan Undang-Undang Nomor 2334/03 tentang Penjaminan Simpanan dan Penyelesaian Lembaga Perantara Keuangan di Paraguay.
Melalui mekanisme tersebut, otoritas perbankan menunjuk tim intervensi untuk memeriksa kondisi keuangan, menjaga aset, dan menentukan langkah penyelesaian yang sesuai dengan ketentuan hukum.
BCP menekankan bahwa persoalan Ueno Bank merupakan kasus khusus dan tidak mencerminkan kondisi keseluruhan industri perbankan Paraguay.
Ueno Bank merupakan bank digital yang berkembang pesat sejak diluncurkan pada 2021.
Baca Juga : Modi Sambut Prabowo di Bharat Mandapam, KTT BRICS Bahas Reformasi Lembaga Global
Berdasarkan laporan Reuters, bank tersebut mengklaim memiliki sekitar tiga juta nasabah serta mengelola dana publik senilai kurang lebih 850 juta dolar Amerika Serikat.
Dana tersebut antara lain berkaitan dengan penempatan keuangan sejumlah lembaga pemerintah dan institusi pengelola dana pensiun.
Gangguan layanan setelah intervensi regulator membuat nasabah kesulitan melakukan transaksi, menarik uang, maupun mengakses rekening melalui layanan digital.
Kondisi tersebut memicu keresahan masyarakat. Sejumlah nasabah mendatangi kantor bank untuk mencari kejelasan mengenai keamanan tabungan mereka.
Pemeriksaan regulator juga menyoroti dugaan pemberian kredit kepada perusahaan yang memiliki hubungan dengan pemegang saham pengendali bank, lemahnya dokumentasi sejumlah transaksi, serta pencatatan aset yang dinilai tidak sesuai.
Temuan tersebut menjadi bagian dari persoalan yang sedang ditelusuri otoritas terkait.
Untuk melindungi nasabah, Bank Sentral Paraguay mengumumkan mekanisme pembayaran melalui Fondo de Garantía de Depósitos (FGD) atau Dana Penjaminan Simpanan.
Dalam keterangan resmi pada Kamis (05/11/2026), BCP menyatakan pembayaran tahap pertama ditujukan kepada nasabah dengan total simpanan maksimal 10 juta guarani.
Nasabah yang masuk tahap pertama harus memenuhi sejumlah persyaratan, antara lain tidak memiliki utang kepada Ueno Bank serta mempunyai rekening aktif di lembaga keuangan lain.
“Jika total simpanan Anda tidak melebihi 10 juta guarani, Anda akan menerima seluruh simpanan tersebut,” demikian penjelasan BCP dalam pengumuman resminya.
Baca Juga : Eropa Bergejolak, Demo Besar di Enam Negara Dipicu Biaya Hidup hingga Krisis Pendidikan
BCP memastikan kelompok nasabah lainnya akan mendapatkan informasi mengenai tahapan pembayaran berikutnya melalui saluran resmi.
Berdasarkan ketentuan penjaminan simpanan di Paraguay, batas perlindungan dana mencapai 228,3 juta guarani per nasabah pada setiap lembaga keuangan.
Namun, batas penjaminan tersebut berbeda dengan nominal pembayaran tahap pertama yang sedang dilaksanakan regulator.
BCP juga mengingatkan nasabah agar tidak mengikuti informasi tidak resmi maupun memberikan data pribadi kepada pihak yang mengaku dapat mempercepat pencairan dana.
Persoalan Ueno Bank tidak hanya berdampak terhadap sektor keuangan, tetapi juga memicu krisis politik nasional.
Presiden Paraguay Santiago Peña mendapat sorotan karena sebelumnya memiliki saham pada kelompok usaha yang berkaitan dengan pengendali Ueno Bank.
Peña mengaku telah menjual kepemilikan saham tersebut pada Maret 2025 dan membantah melakukan pelanggaran hukum.
Meski demikian, sejumlah anggota parlemen menuntut penyelidikan terkait dugaan konflik kepentingan serta penempatan dana publik pada bank tersebut.
Krisis tersebut kemudian berkembang menjadi proses pemakzulan terhadap Presiden Peña.
Di tengah ketidakpastian politik, Bank Sentral Paraguay berupaya menyelesaikan persoalan Ueno Bank dan memulihkan akses nasabah terhadap dana mereka.











