banner 970x250
Kesehatan

Waspada Luwu Diselimuti Smog Berbahaya, Dinkes Beri Peringatan Keras untuk Warga

17
×

Waspada Luwu Diselimuti Smog Berbahaya, Dinkes Beri Peringatan Keras untuk Warga

Sebarkan artikel ini
Waspada Luwu Diselimuti Smog Berbahaya, Dinkes Beri Peringatan Keras untuk Warga
Sosialisasi kesehatan dan penggunaan masker oleh Puskesmas Suli Barat.(Chaeruddin)
Example 468x60

LUWU – Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, menjadi perhatian karena berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Luwu mengimbau warga menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan.

banner 300x600

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Luwu, dr. Rosnawary Basir, mengatakan paparan kabut asap yang diperparah kondisi cuaca kemarau dan udara kering perlu diwaspadai karena dapat memicu iritasi saluran pernapasan serta memperburuk penyakit yang sudah diderita seseorang.

“Ini bukan kabut biasa yang bisa dianggap sepele, ini smog. Masyarakat perlu waspada terhadap dampak kabut asap bagi kesehatan. Kami mengimbau warga menggunakan masker, terutama saat beraktivitas di luar ruangan,” ujar Rosnawary, Sabtu, (10/10/2026).

*Mengenal Smog dan Bahayanya bagi Kesehatan

Smog merupakan istilah yang berasal dari gabungan kata bahasa Inggris smoke (asap) dan fog (kabut).

Istilah ini digunakan untuk menggambarkan kondisi pencemaran udara yang melibatkan asap, partikel halus, dan berbagai polutan yang dapat mengurangi kualitas udara.

Berbeda dengan kabut biasa yang terbentuk dari butiran air akibat proses pengembunan, smog berkaitan dengan pencemaran udara.

Sumbernya dapat berasal dari kebakaran hutan dan lahan, emisi kendaraan bermotor, kegiatan industri, maupun proses pembakaran lainnya.

Salah satu polutan yang perlu diwaspadai ialah PM2.5, yakni partikel halus berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil.

Karena ukurannya sangat kecil, partikel ini dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan menimbulkan dampak kesehatan, terutama jika seseorang terpapar dalam waktu lama atau pada konsentrasi tinggi.

Paparan kabut asap dapat menyebabkan mata perih, tenggorokan terasa kering, batuk, serta sesak napas.

Baca juga:  Manfaat Tomat Ceri untuk Kesehatan dan Cara Tepat Mengonsumsinya

Kondisi tersebut juga berpotensi memperburuk asma dan penyakit paru-paru maupun jantung.

Kabut asap yang terlihat pekat tidak selalu menunjukkan tingkat pencemaran secara akurat.

Untuk memastikan tingkat bahayanya, diperlukan pengukuran kualitas udara melalui parameter seperti PM2.5 dan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU).

*Asap Diduga Berkaitan dengan Kebakaran Hutan

Munculnya kabut asap di Luwu diduga berkaitan dengan kebakaran hutan (Karhutlah) di Luwu.

Selain itu, kemungkinan adanya asap kiriman dari Kalimantan atau daerah tetangga lainnya juga perlu ditelusuri.

“Di group internal kami, hampir setiap hari ada info kebakaran. Kondisi ini memang sangat menghawatirkan. Boleh jadi asap ini juga berasal dari Karhutlah di daerah lain seperti Kalimantan,” ujarnya.

Dinkes Luwu mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan kondisi tersebut, terutama ketika asap semakin pekat atau menimbulkan gangguan pernapasan.

*Anak-anak dan Lansia Diminta Batasi Aktivitas di Luar

Rosnawary mengimbau kelompok rentan agar mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kabut asap masih menyelimuti wilayah mereka.

“Kami mengimbau kelompok rentan agar tidak terlalu lama berada di luar ruangan. Jika tidak ada keperluan mendesak, sebaiknya aktivitas di luar rumah dibatasi selama kabut asap masih pekat,” ujarnya.

Menurutnya, Dinkes Luwu telah meminta tim dokter di puskesmas untuk melakukan penyuluhan kepada masyarakat dan sekolah mengenai penggunaan masker serta pencegahan gangguan kesehatan akibat kabut asap.

Salah satu upaya yang telah dilakukan ialah pemeriksaan kesehatan sekaligus sosialisasi oleh Puskesmas Suli Barat kepada masyarakat.

Terkait pembagian masker gratis, Rosnawary mengatakan langkah tersebut belum dilaksanakan secara luas.

Dinkes masih mengutamakan imbauan dan edukasi, sembari merencanakan koordinasi dengan organisasi dan perusahaan untuk mendukung upaya perlindungan masyarakat.

*Cara Melindungi Diri dari Kabut Asap

Baca juga:  Gandeng PKBI Sulsel, Pemkot Makassar Masifkan Kampanye Pencegahan HIV/AIDS di Sekolah

Masyarakat diimbau melakukan sejumlah langkah pencegahan selama kualitas udara terganggu.

Pertama, kurangi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika asap terlihat pekat atau menimbulkan bau menyengat.

Kedua, gunakan respirator seperti N95 atau KN95 yang terpasang rapat di wajah untuk membantu menyaring partikel halus.

Masker kain biasa tidak memberikan perlindungan yang setara terhadap PM2.5.

Ketiga, tutup pintu dan jendela ketika udara di luar tercemar, serta jaga asupan makanan bergizi, minum air yang cukup, dan beristirahat dengan baik.

Konsumsi vitamin tidak dapat menggantikan langkah mengurangi paparan asap.

Masyarakat yang mengalami batuk berkepanjangan, iritasi mata, atau gangguan pernapasan disarankan memeriksakan diri ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat.

Jika mengalami sesak napas berat, nyeri dada, atau bibir membiru, segera cari pertolongan medis.

Penanganan kabut asap juga perlu disertai upaya mengendalikan sumber pencemaran.

Jika kebakaran hutan atau lahan terjadi di wilayah Luwu, pemadaman dan pencegahan penyebaran api menjadi langkah penting untuk mengurangi paparan asap terhadap masyarakat.

Example 300x600
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *