LUWU – Kemarau panjang yang melanda berbagai wilayah di Indonesia mulai menimbulkan dampak serius bagi masyarakat.
Krisis air bersih, kekeringan lahan pertanian, menurunnya debit sungai hingga meningkatnya kasus penyakit menjadi ancaman nyata yang harus segera diantisipasi.
Di Kabupaten Luwu, dampak kemarau semakin terasa dalam beberapa pekan terakhir.
Sejumlah petani mengeluhkan sawah mereka mengalami kekeringan akibat minimnya pasokan air.
Retakan tanah mulai terlihat di sejumlah areal persawahan dan sebagian petani terancam mengalami gagal panen jika kondisi ini terus berlanjut.
Pantauan sindosulsel.com menunjukkan debit air di sejumlah sungai mengalami penurunan drastis.
Bahkan, Sungai Kandoa di Kecamatan Bua dilaporkan telah mengering pada beberapa titik, kondisi yang jarang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.
Krisis air bersih juga mulai dirasakan masyarakat. Di Kota Belopa, Perumda Air Minum (PDAM) terpaksa melakukan distribusi air bersih langsung ke rumah-rumah pelanggan menggunakan mobil tangki guna memenuhi kebutuhan warga yang terdampak.
Selain mengancam sektor pertanian dan kebutuhan air bersih masyarakat, kemarau panjang juga meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kondisi vegetasi yang kering membuat potensi kebakaran semakin tinggi, terutama di wilayah yang minim sumber air.
Dampak kemarau tidak hanya dirasakan pada sektor ekonomi dan lingkungan, tetapi juga mulai memengaruhi kesehatan masyarakat.
Cuaca panas ekstrem yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir diduga berkontribusi terhadap meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama pada anak-anak dan kelompok rentan.
Selain ISPA, kasus demam, batuk, gangguan pernapasan, hingga tifoid atau tifus juga dilaporkan mengalami peningkatan di sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan.
Seorang tenaga kesehatan membenarkan kondisi tersebut. Menurutnya, setiap hari terdapat banyak pasien yang datang dengan keluhan serupa.
“Hari ini saja ada puluhan pasien dengan keluhan demam, batuk, dan gangguan pernapasan. Cuaca panas yang berkepanjangan sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Masyarakat berharap pemerintah segera mengambil langkah-langkah strategis untuk mengatasi dampak kemarau, mulai dari penyediaan air bersih, bantuan bagi petani terdampak, peningkatan kesiapsiagaan menghadapi karhutla, hingga penguatan layanan kesehatan guna menekan peningkatan kasus penyakit akibat cuaca ekstrem.
Jika kemarau berkepanjangan terus terjadi tanpa penanganan yang memadai, dampaknya dikhawatirkan akan semakin luas dan memengaruhi ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, serta aktivitas ekonomi di berbagai daerah.
















