LUWU – Desa Kadundung, Kecamatan Latimojong, Kabupaten Luwu, resmi menjadi Desa Tangguh Bencana (DESTANA).
Itu setelah Desa Kadundug, mendapatkan pendampingan melalui program Penguatan Kapasitas Desa Tangguh Bencana yang digagas PT Masmindo Dwi Area (MDA) bersama sejumlah mitra strategis.
Program yang merupakan bagian dari pilar Jaga Keselamatan Desa dalam Program Jaga Desa itu dilaksanakan berkolaborasi dengan Pusat Studi Pemetaan dan Bencana (PUSPENA) Universitas Cokroaminoto Palopo (UNCP).
Selain itu juga melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Luwu, serta Palang Merah Indonesia (PMI).
Kegiatan yang berlangsung di Desa Kadundung pada Juli 2026 tersebut menjadikan desa itu sebagai desa kelima yang mendapatkan pendampingan DESTANA sejak program diinisiasi pada 2024.
Program ini lahir dari aspirasi masyarakat yang dihimpun melalui Forum Desa MATAPPA (FORDES MATAPPA).
Aspirasi tersebut kemudian diterjemahkan menjadi program kolaboratif yang bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi berbagai potensi bencana.
Melalui program DESTANA, masyarakat dibekali kemampuan dalam pemetaan risiko, penyusunan mekanisme respons desa, simulasi kebencanaan, hingga pelatihan penanganan awal kondisi darurat.
Pendekatan yang diterapkan dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan karakteristik masing-masing desa.
Setelah dilaksanakan di Desa Bonelemo dan Ulusalu pada 2024, program kemudian diperluas ke Desa Boneposi, Tolajuk, dan kini Desa Kadundung sepanjang 2026.
Kepala Teknik Tambang (KTT) PT Masmindo Dwi Area, Mustafa Ibrahim, mengatakan penguatan kapasitas masyarakat merupakan bagian penting dari komitmen perusahaan dalam mewujudkan operasional pertambangan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.
“Bagi MDA, keselamatan tidak hanya menjadi budaya di lingkungan kerja, tetapi juga nilai yang ingin kami tumbuhkan bersama masyarakat di sekitar wilayah operasional,” ujarnya.
“Karena itu, melalui Jaga Keselamatan Desa kami terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, perguruan tinggi, organisasi kemanusiaan, dan masyarakat agar setiap desa memiliki kapasitas yang semakin baik dalam mengenali risiko, menyusun mekanisme respons, dan bertindak cepat saat menghadapi kondisi darurat,” sambung Mustafa.
Di Desa Kadundung, masyarakat mengikuti berbagai materi terkait mitigasi bencana, mekanisme koordinasi saat kondisi darurat, serta penyusunan sistem respons desa.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan simulasi pertolongan pertama yang dipandu tim PMI bersama Emergency Response Team (ERT) PT Masmindo Dwi Area.
Melalui simulasi tersebut, peserta mempraktikkan penanganan korban, prosedur evakuasi awal, hingga koordinasi antarunsur desa sehingga memiliki pengalaman langsung dalam menghadapi situasi darurat.
Ketua PUSPENA UNCP, Dr. Ichwan Muis, menegaskan bahwa membangun desa tangguh membutuhkan proses pendampingan yang berkelanjutan agar kesiapsiagaan menjadi bagian dari budaya masyarakat.
“Ketangguhan desa tidak dibangun dalam satu pelatihan, tetapi melalui proses belajar, latihan, dan evaluasi yang dilakukan secara konsisten,” kata Ichwan Muis.
“Ketika masyarakat memahami risiko di wilayahnya, mengetahui peran masing-masing, dan terbiasa berlatih bersama, maka kemampuan desa dalam menghadapi bencana akan semakin kuat,” lanjutnya.
Sementara itu, Kepala Desa Kadundung, Parambung, mengapresiasi kolaborasi yang dibangun MDA bersama PUSPENA UNCP, BPBD Kabupaten Luwu, dan PMI dalam memperkuat kesiapsiagaan masyarakat.
“Kami merasakan manfaat nyata dari program ini. Masyarakat tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga kesempatan untuk mempraktikkan langsung langkah-langkah penanganan darurat. Kegiatan seperti ini membuat masyarakat semakin memahami bagaimana harus bertindak, saling berkoordinasi, dan membantu sesama ketika menghadapi situasi darurat,” ujarnya.
MDA menegaskan bahwa pembangunan desa tangguh merupakan investasi sosial jangka panjang yang tumbuh bersama masyarakat.
Melalui Program Jaga Desa, perusahaan akan terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan guna meningkatkan kapasitas desa-desa di wilayah operasional dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk potensi bencana.
















