banner 970x250
Nasional

150.576 Warga Mengungsi Pascagempa NTT, 87 Orang Meninggal Dunia

10
×

150.576 Warga Mengungsi Pascagempa NTT, 87 Orang Meninggal Dunia

Sebarkan artikel ini
150.576 Warga Mengungsi Pascagempa NTT, 87 Orang Meninggal Dunia
Kondisi rumah warga yang terdampak gempa magnitudo 7,7 di Desa Peoza Karamba, Kecamatan Ende, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Foto: Bidang Komunikasi Kebencanaan/Danung Arifin-BNPB
Example 468x60

NASIONAL – Jumlah warga yang mengungsi akibat gempa bumi magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) melonjak menjadi 150.576 jiwa.

Para pengungsi tersebar di tujuh kabupaten terdampak, sementara ribuan gempa susulan masih terjadi setelah gempa utama mengguncang wilayah Flores.

banner 300x600

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam pemutakhiran data yang diterbitkan Minggu (23/08/2026) mencatat, jumlah pengungsi tersebut merupakan data sementara hingga Sabtu (22/08/2026).

Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan pengungsi terbanyak, mencapai 41.427 jiwa.

Selanjutnya, sebanyak 34.256 jiwa mengungsi di Nagekeo, 31.372 jiwa di Manggarai Timur, 19.954 jiwa di Manggarai Barat, 17.587 jiwa di Sikka, 3.429 jiwa di Ende, serta 2.551 jiwa di Ngada.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan jumlah pengungsi meningkat dibandingkan sehari sebelumnya.

“Pengungsi juga bertambah dari angka yang kemarin 130-an ribu, sekarang sudah mencapai 150.576 jiwa,” kata Berton, sebagaimana dikutip dari ANTARA.

BNPB menyebut penambahan jumlah pengungsi terjadi di tengah masih tingginya aktivitas gempa susulan.

Berdasarkan catatan BMKG yang disampaikan BNPB, hingga Jumat (21/08/2026) pukul 05.00 WIB telah terjadi 5.012 gempa susulan dengan magnitudo terkecil 1,1 dan terbesar 6,2.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 124 gempa susulan dirasakan masyarakat.

Gempa utama magnitudo 7,7 mengguncang wilayah NTT pada Sabtu (15/08/2026) pukul 04.58 WIB.

Data BMKG menunjukkan pusat gempa berada sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer.

Peringatan dini tsunami sempat dikeluarkan sebelum kemudian dinyatakan berakhir.

Dampak gempa juga terus bertambah.

BNPB mencatat 87 orang meninggal dunia hingga Sabtu (22/08/2026) pukul 16.00 WIB.

Korban meninggal tersebar di Manggarai sebanyak 31 jiwa, Manggarai Timur 30 jiwa, Nagekeo 13 jiwa, Sikka sembilan jiwa, Ngada empat jiwa, Ende dua jiwa, dan Manggarai Barat satu jiwa.

Baca juga:  Peringatan Hari Damai Aceh Ricuh, Pemerintah Ajak Masyarakat Menahan Diri

Selain korban meninggal, sebanyak 1.298 orang mengalami luka-luka, terdiri atas 336 luka berat, 61 luka sedang, 895 luka ringan, serta enam orang yang status lukanya masih dalam proses pendataan.

Manggarai Timur mencatat korban luka terbanyak dengan 643 orang, disusul Manggarai sebanyak 285 orang.

Kerusakan rumah juga meluas.

Berdasarkan pendataan sementara BNPB, sebanyak 53.971 unit rumah terdampak gempa.

Rinciannya, 19.006 rumah rusak berat, 11.777 rusak sedang, dan 23.188 rusak ringan.

Data tersebut masih menjalani proses verifikasi dan validasi di lapangan.

Manggarai Timur menjadi daerah dengan jumlah rumah rusak terbanyak, yakni 17.039 unit.

Kerusakan juga tercatat di Manggarai Barat sebanyak 9.402 unit, Ngada 8.129 unit, Manggarai 7.045 unit, Nagekeo 4.829 unit, Ende 3.953 unit, dan Sikka 3.574 unit.

Di tengah besarnya kebutuhan warga terdampak, BNPB terus mengirim bantuan melalui Pos Pendukung Logistik Nasional di Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Sepanjang Sabtu (22/08/2026), sebanyak 147 ton bantuan didistribusikan melalui 10 sorti penerbangan, terdiri atas 70 ton menuju Labuan Bajo dan 77 ton menuju Maumere.

Secara kumulatif, BNPB mencatat 954.438 kilogram atau sekitar 954 ton bantuan logistik telah didistribusikan sejak Sabtu (15/08/2026) hingga Sabtu (22/08/2026).

Bantuan itu dikirim ke wilayah terdampak melalui Labuan Bajo dan Maumere.

Bantuan tersebut berasal dari pemerintah dan berbagai pihak.

Pos Pendukung Logistik Nasional telah menerima sekitar 1.541 ton bantuan dari 72 donatur, yang terdiri atas kementerian dan lembaga, TNI, BUMN, dunia usaha, organisasi kemanusiaan, serta sejumlah mitra lainnya.

Muatan yang dikirim antara lain kebutuhan pangan, perlengkapan tempat tinggal sementara, kebutuhan kesehatan, perlengkapan bayi dan kebersihan, serta peralatan untuk penanganan darurat.

BNPB juga mencatat ribuan personel dikerahkan dalam operasi penanganan bencana.

Baca juga:  Karhutla Meluas di Kalimantan, Kalbar Catat 38.310 Hektare Lahan Terbakar

Sedikitnya terdapat 5.832 personel TNI, 238 personel Polri, serta 903 relawan dari 104 organisasi.

Jumlah tersebut belum termasuk personel dari sejumlah kementerian, lembaga, dan BNPB yang berada di lapangan.

Penanganan medis turut diperkuat dengan pengoperasian rumah sakit lapangan dan rumah sakit terapung.

Pemerintah bersama pemerintah daerah dan unsur kemanusiaan masih memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dasar, pelayanan kesehatan, distribusi logistik, serta pendataan kerusakan bagi masyarakat terdampak gempa.

Example 300x600
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *