banner 970x250
Nasional

Karhutla Kalimantan Belum Reda, 1.842 Titik Panas Terpantau di Lima Provinsi

10
×

Karhutla Kalimantan Belum Reda, 1.842 Titik Panas Terpantau di Lima Provinsi

Sebarkan artikel ini
Karhutla Kalimantan Belum Reda, 1.842 Titik Panas Terpantau di Lima Provinsi
Petugas melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan dalam operasi terpadu penanganan karhutla di Kalimantan. Foto: Dokumentasi Kementerian Kehutanan
Example 468x60

NASIONAL – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan belum reda.

Pemantauan satelit mencatat 1.842 titik panas tersebar di lima provinsi di Kalimantan, sementara kabut asap dari kawasan tersebut terpantau bergerak hingga Sarawak, Malaysia, dan sempat memaksa ratusan sekolah menghentikan kegiatan tatap muka.

banner 300x600

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut data tersebut berasal dari Sistem Pemantauan Karhutla SiPongi melalui satelit NASA-NOAA 20 pada Jumat (21/08/2026) pukul 14.14 WIB.

Dari total 1.842 titik panas, sebanyak 1.832 titik berada pada tingkat kepercayaan sedang dan 10 titik pada tingkat kepercayaan tinggi.

Kalimantan Tengah menjadi provinsi dengan titik panas terbanyak, yakni 976 titik, terdiri atas 968 titik dengan tingkat kepercayaan sedang dan delapan titik berkepercayaan tinggi.

Kalimantan Barat berada di urutan berikutnya dengan 489 titik, terdiri atas 487 titik berkepercayaan sedang dan dua titik berkepercayaan tinggi.

Sementara Kalimantan Timur mencatat 237 titik, Kalimantan Selatan 125 titik, dan Kalimantan Utara 15 titik.

BNPB mengingatkan bahwa titik panas merupakan indikasi anomali suhu yang terdeteksi satelit dan tidak serta-merta menunjukkan jumlah kejadian kebakaran.

Satu kebakaran dapat menghasilkan beberapa titik panas sehingga diperlukan verifikasi lapangan untuk memastikan lokasi, kondisi, penyebab, dan luas lahan yang terbakar.

Hal serupa juga ditegaskan Kementerian Kehutanan dalam pemantauan karhutla di Kalimantan.

Penanganan dilakukan melalui operasi darat dan udara.

BNPB mengerahkan 39 unsur udara di enam provinsi prioritas, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.

Armada tersebut terdiri atas helikopter patroli, pesawat untuk operasi modifikasi cuaca, serta helikopter water bombing.

Kondisi di Kalimantan Selatan menjadi salah satu yang terus dipantau.

Baca juga:  Antisipasi Karhutla, Polres Palopo Gelar Apel Kesiapsiagaan dan Cek Peralatan

Menteri Kehutanan Raja Antoni meninjau langsung penanganan karhutla di Penggalaman, Kabupaten Banjar, pada Minggu (23/08/2026).

Data SiPongi yang disampaikan Kementerian Kehutanan menunjukkan 44 titik panas masih terpantau di Kalimantan Selatan pada Minggu pagi pukul 06.00.

Titik-titik tersebut tersebar di Kabupaten Banjar, Kota Banjarbaru, Hulu Sungai Selatan, dan Tapin.

Jumlah itu berfluktuasi dalam beberapa hari terakhir.

Kementerian Kehutanan mencatat 157 titik panas di Kalimantan Selatan pada Jumat (21/08/2026), kemudian turun menjadi 11 titik pada Sabtu (22/08/2026) pukul 21.00 WIB sebelum kembali naik menjadi 44 titik pada Minggu pagi.

“Masih ada per hari ini seperti tadi, per jam 6 pagi tadi masih ada 44 titik panas di Banjar, Banjarbaru, HSS, dan Tapin,” kata Raja Antoni, dikutip dari siaran pers resmi Kementerian Kehutanan.

Pemerintah juga menambah dukungan pemadaman udara.

BNPB berencana mengalihkan satu helikopter water bombing dari Riau ke Kalimantan Selatan karena situasi karhutla di Riau dinilai relatif lebih terkendali.

Sebelumnya, BNPB mencatat penanganan karhutla di Kalimantan Selatan melibatkan sekitar 387 personel dari BPBD, Manggala Agni, TNI, Polri, relawan, dan masyarakat.

Tiga helikopter water bombing juga dikerahkan, dengan ratusan kali penjatuhan air di sejumlah lokasi kebakaran.

Kabut asap tidak hanya memengaruhi wilayah Indonesia.

Dampaknya juga terpantau di negara tetangga, terutama Sarawak, Malaysia.

Departemen Lingkungan Malaysia, sebagaimana dilaporkan Bernama, menyebut citra regional ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) memperlihatkan asap lintas batas dengan intensitas sedang hingga pekat berasal dari kelompok titik panas di Kalimantan Barat dan bergerak ke utara menuju wilayah barat Sarawak.

Kualitas udara di sejumlah wilayah Sarawak kemudian memburuk.

Pada Jumat (21/08/2026), Indeks Pencemaran Udara (IPU) di Serian sempat mencapai 227 atau kategori sangat tidak sehat.

Baca juga:  Bandingkan Koruptor dan Pekerja Kasar, Prabowo: Keringat Halal Lebih Terhormat

Sri Aman mencatat 187, Kuching 176, Samarahan 175, Sarikei 174, Sibu 157, serta sejumlah wilayah lain juga berada pada kategori tidak sehat.

Dampak kabut asap turut menghentikan kegiatan sekolah.

Jabatan Pendidikan Negeri Sarawak mencatat 591 sekolah di bawah 10 kantor pendidikan daerah ditutup pada Kamis hingga Jumat (20–21/08/2026).

Penutupan itu mencakup 509 sekolah dasar dengan 107.590 murid dan 82 sekolah menengah dengan 89.733 pelajar, atau lebih dari 197 ribu siswa.

Sekolah-sekolah tersebut berada antara lain di Kuching, Padawan, Bau, Lundu, Samarahan, Simunjan, Serian, Sri Aman, Lubok Antu, dan Betong.

Situasi terbaru menunjukkan kualitas udara Sarawak mulai membaik.

Jabatan Pendidikan Negeri Sarawak pada Minggu (23/08/2026) mengumumkan seluruh sekolah yang sebelumnya terdampak kabut asap akan kembali beroperasi seperti biasa mulai Senin (24/08/2026) berdasarkan pembacaan kualitas udara pada Minggu pagi.

Di Indonesia, pemerintah meminta masyarakat tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar.

Warga di kawasan terdampak asap juga diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, menggunakan masker, serta segera mencari pertolongan medis apabila mengalami gangguan pernapasan.

Example 300x600
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *