banner 970x250
Nasional

51 Orang Meninggal akibat Gempa Flores, 1.357 Rumah Rusak

8
×

51 Orang Meninggal akibat Gempa Flores, 1.357 Rumah Rusak

Sebarkan artikel ini
51 Orang Meninggal akibat Gempa Flores, 1.357 Rumah Rusak
Kondisi bangunan yang rusak akibat gempa magnitudo 7,7 di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Foto: BNPB/Wikimedia Commons
Example 468x60

NASIONAL – Jumlah korban meninggal dunia akibat gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), bertambah menjadi 51 orang.

Data terbaru Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) itu diperbarui hingga pukul 09.00 WITA, Minggu (16/08/2026).

banner 300x600

“Per pukul 09.00 tadi pagi hari ini, bahwa total korban meninggal dunia ada 51,” kata Kepala Basarnas Mohammad Syafii dalam konferensi pers.

Basarnas juga mencatat 64 warga mengalami luka dan membutuhkan penanganan.

Operasi pencarian dan pertolongan masih berlanjut karena petugas menyisir sejumlah wilayah terdampak, termasuk kawasan yang sebelumnya sulit dijangkau akibat longsor dan gangguan akses.

Angka korban dari Basarnas tersebut merupakan pembaruan yang lebih baru dibandingkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per pukul 00.00 WIB, Minggu (16/08/2026).

Pada waktu itu, BNPB masih mencatat 47 orang meninggal dan 101 warga menjalani perawatan akibat luka-luka.

Perbedaan angka tersebut perlu dilihat berdasarkan waktu pemutakhiran masing-masing instansi.

Pendataan masih berlangsung seiring operasi pencarian, evakuasi, dan verifikasi korban di lapangan.

Selain korban jiwa, jumlah warga yang mengungsi juga meningkat tajam.

BNPB mencatat 9.290 warga berada di titik-titik pengungsian di wilayah terdampak gempa.

Data tersebut mencakup pengungsi di sejumlah wilayah NTT serta daerah terdampak lain, termasuk Kota Bima di Nusa Tenggara Barat dan Kepulauan Selayar di Sulawesi Selatan.

Konsentrasi pengungsi terbesar berada di Kabupaten Sikka sebanyak 3.356 jiwa.

Dari jumlah itu, 1.356 orang berada di GOR Samador dan sekitar 2.000 warga mengungsi secara mandiri di 10 titik.

Di Kabupaten Manggarai, jumlah pengungsi tercatat mencapai 2.078 jiwa, sedangkan di Nagekeo terdapat sekitar 500 warga mengungsi.

BNPB menyatakan pemenuhan kebutuhan dasar dan logistik para penyintas menjadi salah satu fokus penanganan darurat.

Baca juga:  Tiga Hari Hilang Kontak, Wali Kota Sibolga Ditemukan Selamat Setelah Jalan Kaki 50 Km

Kerusakan permukiman juga bertambah setelah pendataan dilakukan.

BNPB mencatat 1.357 rumah rusak, terdiri atas 914 rumah rusak berat, 126 rusak sedang, dan 317 rusak ringan.

Dampak gempa turut mengenai fasilitas publik.

Sedikitnya 93 fasilitas pendidikan, 36 fasilitas kesehatan, dan 38 kantor pemerintahan mengalami kerusakan berdasarkan pendataan sementara BNPB.

Basarnas memperluas operasi pencarian pada hari kedua setelah sejumlah akses yang sebelumnya tertutup material longsor mulai dapat ditembus.

Deputi Operasi Basarnas Edy Prakoso mengatakan pengerahan personel dan peralatan SAR sejak pukul 06.00 WITA difokuskan antara lain di wilayah Mbay, Nagekeo, dan Reo, Manggarai.

“Akses darat di wilayah Reo yang sebelumnya terputus akibat longsor kini sudah berhasil dibuka oleh tim,” kata Edy, sebagaimana dikutip dari ANTARA.

Terbukanya jalur tersebut memungkinkan tim gabungan menjangkau daerah yang sebelumnya terisolasi sekaligus mempercepat distribusi bantuan dan proses evakuasi.

BNPB juga mencatat gempa utama telah diikuti 341 aktivitas gempa susulan.

Tim gabungan masih melakukan penyisiran, pendataan, dan verifikasi di wilayah terdampak.

Gempa utama terjadi pada Sabtu (15/08/2026) pukul 04.58 WIB atau 05.58 WITA.

Berdasarkan pemutakhiran Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa berkekuatan magnitudo 7,7 itu berpusat di laut sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer.

BMKG mengidentifikasi gempa dipicu aktivitas Flores Back-Arc Thrust dengan mekanisme pergerakan sesar naik atau thrust fault.

Gempa dangkal tersebut sempat memicu peringatan dini tsunami untuk sejumlah wilayah di NTT, NTB, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara.

Hasil pemantauan BMKG menunjukkan tsunami memang terdeteksi di sejumlah pesisir.

Di Sulawesi Selatan, gelombang tercatat di Bulukumba dengan ketinggian 0,54 meter pada pukul 05.58 WIB.

Baca juga:  MUI Susun Naskah Akademik dan RUU Pidana LGBT untuk Masuk Prolegnas DPR RI

Tsunami juga terdeteksi antara lain di Maurole, Ende, setinggi 0,94 meter; Pelabuhan Kewapante, Sikka, 0,38 meter; Labuan Bajo 0,36 meter; Baubau 0,30 meter; serta Kolaka 0,23 meter.

BMKG kemudian mengakhiri peringatan dini tsunami pada pukul 07.30 WIB, Sabtu (15/08/2026) setelah pemantauan tidak lagi menunjukkan kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan masyarakat di pesisir terdampak.

Meski peringatan tsunami telah berakhir, masyarakat tetap diminta mewaspadai gempa susulan dan menghindari bangunan yang mengalami kerusakan atau retakan struktur.

Pemerintah Provinsi NTT telah menetapkan status tanggap darurat bencana gempa selama 14 hari, terhitung 15 hingga 28 Agustus 2026.

Kebijakan tersebut tertuang dalam Keputusan Gubernur NTT Nomor 305/KEP/HK/2026.

Status tanggap darurat menjadi dasar untuk mempercepat pencarian dan evakuasi korban, pelayanan kesehatan, pemenuhan kebutuhan pengungsi, hingga pemulihan akses transportasi dan infrastruktur yang rusak.

Dalam pemberitaan SINDOSulsel sebelumnya, jumlah korban meninggal berdasarkan data BNPB hingga pukul 15.00 WIB, Sabtu (15/08/2026), masih tercatat 38 orang dengan sekitar 2.000 warga melakukan pengungsian atau evakuasi secara mandiri.

Dengan operasi pencarian yang masih berlangsung dan proses verifikasi terus dilakukan, data korban maupun kerusakan masih berpotensi berubah.

Example 300x600
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *