banner 970x250
Daerah

Melinda Aksa Dorong Setiap RT di Makassar Kelola Sampah dari Sumber

9
×

Melinda Aksa Dorong Setiap RT di Makassar Kelola Sampah dari Sumber

Sebarkan artikel ini
Melinda Aksa Dorong Setiap RT di Makassar Kelola Sampah dari Sumber
Melinda saat memimpin rapat bersama para lurah se-Kecamatan Manggala, Selasa (18/8/2026), usai kegiatan SMEP.(ist)
Example 468x60

MAKASSAR – Ketua Tim Penggerak PKK Kota Makassar, Melinda Aksa, mendorong pengelolaan sampah berbasis lingkungan dengan menjadikan setiap RT sebagai titik awal pengurangan sampah dari sumbernya.

Dorongan tersebut disampaikan Melinda saat memimpin rapat bersama jajaran Kecamatan Manggala dan para lurah se-Kecamatan Manggala, Selasa (18/8/2026), usai kegiatan Supervisi, Monitoring, Evaluasi dan Pelaporan (SMEP).

banner 300x600

Rapat tersebut secara khusus mengevaluasi pengelolaan sampah di wilayah Kecamatan Manggala, termasuk kondisi persampahan di Kelurahan Tamangapa.

Melinda yang juga Ketua Dewan Lingkungan menekankan, persoalan sampah tidak dapat hanya mengandalkan sistem pengangkutan pemerintah.

Pengelolaan harus dimulai dari rumah tangga, kemudian diperkuat melalui RT, RW hingga kelurahan.

Ia mendorong setiap RT di Kecamatan Manggala memiliki sedikitnya dua hingga tiga teba sebagai sarana pengolahan sampah organik dari sumber.

“Pengelolaan sampah harus dimulai dari rumah dan lingkungan masing-masing. Kita ingin setiap RT mampu mengelola sampahnya, sehingga yang keluar dari lingkungan benar-benar hanya residu,” ujar Melinda.

Menurutnya, keberadaan fasilitas pengelolaan sampah harus diikuti dengan pemanfaatan dan pengelolaan yang berkelanjutan. Jangan sampai fasilitas tersedia, tetapi tidak digunakan secara maksimal.

Melinda juga menyoroti masih ditemukannya praktik pembakaran dan pembuangan sampah sembarangan. Karena itu, pengawasan di tingkat wilayah perlu diperkuat dengan melibatkan masyarakat secara aktif.

Dalam evaluasi tersebut, Kelurahan Tamangapa menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian khusus.

Tamangapa memiliki tujuh RW dan 43 RT, dengan 18 teba serta empat Bank Sampah Unit (BSU).

Melinda mendorong Kluster Berlian di wilayah tersebut menjadi model percontohan pengelolaan sampah mandiri yang dapat direplikasi ke lingkungan lainnya.

“Kalau ada lingkungan yang sudah berjalan baik, kita jadikan contoh dan direplikasi. Jangan berhenti pada satu titik, tetapi diperluas ke lingkungan lainnya,” katanya.

Baca juga:  Sekda Luwu Purna Tugas, Suasana Haru Iringi Pelepasan

Ia juga meminta sosialisasi dilakukan secara berkelanjutan di setiap RT. Jika fasilitas yang tersedia sudah mencapai kapasitas maksimal, pemerintah wilayah didorong menambah sarana seperti teba, komposter hingga mesin pencacah.

Selain Tamangapa, evaluasi juga mencakup tujuh kelurahan lainnya di Kecamatan Manggala.

Kelurahan Manggala tercatat memiliki 42 teba dan 17 BSU. Kelurahan Borong mengembangkan budidaya maggot melalui dukungan CSR PLN.

Sementara Kelurahan Antang memiliki 30 teba dan satu TPS3R yang menaungi 12 RT, dengan kondisi tidak ada sampah yang dikirim keluar wilayah.

Kelurahan Batua memiliki 27 teba, 10 BSU dan 13 urban farming. Bitoa memiliki 15 teba, tiga BSU dan dua urban farming.

Adapun Biring Romang memiliki 44 teba dan lima urban farming, sedangkan Bangkala memiliki 43 teba serta mendapat dukungan CSR untuk pengadaan mesin pencacah yang akan digunakan dalam pengolahan sampah organik.

Melinda juga meminta pengawasan diperkuat terhadap sumber sampah dari sektor hotel, restoran dan kafe (Horeka), termasuk dapur Makan Bergizi Gratis (MBG).

Ia menegaskan, setiap pihak harus bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan. Pengelolaan sampah secara mandiri perlu diperkuat sehingga seluruh beban tidak berujung pada sistem pengangkutan pemerintah.

“Semua pihak harus bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkan. Masyarakat kita dorong untuk tertib, sektor usaha dan dapur MBG juga harus melakukan hal yang sama,” tegasnya.

Pengawasan juga diminta diperkuat di sejumlah wilayah rawan pembuangan sampah sembarangan, termasuk kawasan perbatasan Perumahan Moncongloe yang masih ditemukan menjadi titik pembuangan sampah.

Kepala Bidang Persampahan DLH Kota Makassar, Aswin Kartapati, turut mendorong setiap RW membentuk Bank Sampah Unit sesuai surat edaran yang berlaku.

Menurutnya, pembentukan BSU harus dibarengi sosialisasi berkelanjutan agar masyarakat semakin terbiasa memilah sampah dari rumah.

Baca juga:  Gerak Cepat Polres Luwu, 6 Terduga Pelaku Perusakan Rumah Kades Padang Kalua Ditangkap

Melinda menegaskan, evaluasi usai SMEP tidak boleh berhenti pada pencatatan jumlah fasilitas. Hal terpenting adalah memastikan fasilitas tersebut benar-benar mampu mengurangi volume sampah yang keluar dari lingkungan.

“Yang kita kejar bukan hanya berapa banyak teba atau bank sampah yang dibangun, tetapi seberapa banyak sampah yang berhasil kita kelola dari sumbernya. Ini harus menjadi gerakan bersama dari RT, RW, kelurahan sampai kecamatan,” pungkas Melinda.

Example 300x600
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *