NASIONAL – Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) mulai membahas kemungkinan penghentian jaringan 2G bersama pemerintah.
Pembahasan masih tahap awal, sementara ATSI memperkirakan sekitar 29 juta pengguna seluler masih bergantung pada jaringan tersebut.
Belum ada keputusan ataupun jadwal penghentian 2G yang diumumkan.
“Kita masih membahas di tahap awal ke pemerintah,” kata Direktur Eksekutif ATSI Marwan O. Baasir dalam wawancara dengan ANTARA di Bandung, Minggu (27/09/2026).
ATSI ingin membahas waktu pelaksanaan serta dukungan yang diperlukan jika peralihan jaringan nantinya dilakukan.
Jabatan Marwan sebagai direktur eksekutif tercantum dalam susunan pengurus resmi ATSI.
Menurut perkiraan ATSI, pengguna 2G masih mencakup sekitar 8–10 persen pengguna layanan seluler.
Jaringan ini terutama digunakan untuk telepon dan pesan singkat, termasuk melalui feature phone.
Marwan menyebut kondisi di wilayah timur Indonesia sebagai salah satu pertimbangan.
Jika penghentian 2G kelak diputuskan, kapasitas pada pita frekuensi 900 MHz yang digunakan layanan tersebut berpeluang dimanfaatkan untuk teknologi seperti 4G dan 5G.
Namun, pita 900 MHz tidak semata-mata digunakan untuk 2G.
Pemerintah sebelumnya mencatat pita itu juga digunakan untuk layanan 3G dan 4G.
Kementerian Komunikasi dan Digital telah menyatakan sedang menyiapkan pemanfaatan frekuensi 900 MHz.
Pengumuman pemerintah pada Juli 2026 itu tidak menetapkan penghentian jaringan 2G.
Karena itu, pengguna masih perlu menunggu keputusan resmi sebelum menganggap jaringan tersebut akan segera dimatikan.
Marwan mengatakan jumlah pengguna yang masih mengandalkan 2G dan tantangan geografis harus diperhitungkan agar peralihan teknologi tidak mengganggu akses komunikasi.
ATSI juga menilai perangkat yang mendukung jaringan lebih baru perlu tersedia dengan harga terjangkau jika kebijakan penghentian akhirnya diterapkan.













